Autobiografi
Rezki
Autobiografi Rezki
Karina
Autobiografi Karina
Emunda
Autobiografi Emunda
Faishal
Autobiografi Faishal
Anggi
Autobiografi Anggi
Autobiografi Rezki
Karina
Autobiografi Karina
Emunda
Autobiografi Emunda
Faishal
Autobiografi Faishal
Anggi
Autobiografi Anggi
Autobiografi Emunda
Holaa
People
Let me introduce my self. Begitu
dilahirkan saya diberi nama Emunda Primadiayu Putri, sempat berganti beberapa
kali nama tapi akhirnya pakai nama itu. Kata orang tua saya arti dari nama itu
adalah Emunda, yang ternyata adalah gabungan nama dari ayah dan ibu. Prima
yaitu anak pertama dan ayu katanya sih anaknya paling cantik diantara yang lain
( padahal kenyataannya uda kalah saing, hehehe ). Kalau Putri ya anak
perempuan. Jadi kalau digabung artinya anak perempuan pertama dari ayah dan ibu
yang paling cantik. Pertama kali masuk dunia pendidikan itu masuk kelompok
bermain “Intan Play Group” yang
lokasinya dekat dengan rumah. Yah..like a anak-anak kecil pada umumnya yang
masih malu-malu. Tapi begitu masuk taman kanak-kanak “Arisska” mulai deh punya
temen sepermainan hihi. Cindy dan Rani. Merekalah sahabat yang benar-benar
sudah seperti saudara tapi sekarang uda lost
contact L so sad.
Mulai dari hal-hal konyol, memalukan, menakjubkan, dan membanggakan versi
balita kita lakukan. Tapi semenjak masuk SMP kita uda sibuk masing-masing,
kalau SD masih beberapa kali ketemu mereka.
Sekolah Dasar “Al-Muslim” disitulah
saya bersekolah Full Day School mulai
dari jam 07.00 – 16.00. Kalau flashback pemikiran,
mana bisa anak kecil sekolah dari pagi sampai sore, setiap hari. Tapi ternyata
semua hal yang kita pikir itu tidak mungkin, bisa menjadi mungkin kalau
dijalani dengan enjoy. Masa-masa SD
inilah mulai mengenal sahabat sejati dan beberapa kegiatan positif. Sampai
ketika itu kita membenuk grup PAF.VITS singkatan dari Putri (nama SD saya),
Ainy, Firdha, Viras, Ilin, Tyas, Suri. Yah begitulah masa SD yang masih
terkenal dengan pertemenan grup hehehe. Sekolah dan teman-temen semasa itu
seperti rumah kedua dan saudara kedua bagi saya karena mau tidak mau seharian
kita selalu bersama menjalani aktivitas. Karena ada saudara yang satu atap
sekolah, kami sempat berjualan permen Lips yang pada waktu itu Hits dan susu milo yang kami tawarkan
ketika istirahat sekolah. Benar-benar ketagihan dan langsung habis pada
istirahat pertama, disitulah kami mulai muncul ide-ide bisnis kecil yang bisa
kami tawarkan ke teman-teman sekolah. Walaupun pada waktu itu, sempat dilarang
oleh guru, yang akirnya kami tawarkan ketika jam pulang sekolah. Kesenangan
tersendiri karena bisa memiliki penghasilan lumayan secara kontinyu pada masa
itu. Namun ketika kelas 6, kami stop
berjualan karena focus untuk UN. Karena kecerobohan, kartu UN yang seharusnya
wajib disimpan dan dibawa, milik saya justru hilang entah kemana, dan ada satu
kertas penting lagi yang kelunturan tinta yang mengakibatkan guru-guru harus
mengurus ke Dinas hanya untuk satu kartu. Tetapi akhirnya bisa mengikuti ujian
walaupun harus merepotkan beberapa guru.
Nah ketika pengumuman kelulusan, di amplop
bertuliskan kalimat yang panjang, sedangkan kalau pernyataan “Lulus” kan hanya
beberapa kata. Karena pada saat pengumuman kelulusan di ruangan yang gelap,
saya mencoba membaca tulisan tersebut secara beruang-ulang. Betapa kagetnya
ketika tulisan tersebut menyatakan “Dinyatakan Tidak Lulus” disitu saya
langsung nangis terdiam dan sangat menyesal, sempat terlintas dipikiran “Lalu
untuk apa saya selama 6 tahun dan hasilnya sia-sia” , menangis dan menangis
lagi. Sampai teman-teman datang dan memeluk dengan erat. Hingga menarik
perhatian wali kelas datang menghampiri. Disitu wali kelas saya membisik dan
berkata “Maaf Putri itu suratnya tertukar bukan untuk kamu, yang ini untuk
kamu” sambil membawa surat kedua yang diberikan pada saya. Dengan Bismillah
membuka surat kedua berharap pernytaan surat pertama itu salah. Ternyata benar,
surat kedua saya dinyatakan “Lulus”. Betapa gembiranya dan bersyukur atas apa
yang saya dapat. Begitu juga dengan teman-teman disekitar. Ternyata ada 4 orang
yang dinyatakan tidak lulus sebelumnya. Dan jumlah kelas 6 pada angkatan saya
yaitu sebanyak 4 kelas yaitu A, B, C dan D. Disitu wali kelas masing-masing
siswa yang dinayatakan tidak lulus menghampiri secara personal, dan mengatakan
“Ini pelajaran untuk kalian yang suka membikin orang lain repot atau teledor
atau selalu membikin masalah semasa tingkat SD, semoga bisa menjadi pelajaran
berharga untuk kalian agar lebih prepare ,
mandiri dan berhati-hati dalam bertindak. Jadi memang sengaja per kelas ada perwakilan
1 orang yang dinyatakan tidak lulus karena ulahnya. Semenjak itu tersadar dan
bertekad setelah lulus harus bisa mandiri, prepare, dan berhati-hati dalam bertindak.
Sekolah Menengah Pertama di SMPN 17 Surabaya,
menjadi saksi pertama perubahan sikap menjadi lebih baik. Mendapat banyak teman
baru dan lebih loyal terhadap sesame. Cuma satu yang tidak bisa hilang pada
waktu itu, yaitu tidak bisa datang tepat waktu. Selalu terlambat sudah menjadi
kebiasaan. Sampai suatu ketika satpam sekolah bosan dengan keterlambatan saya
dan tidak membolehkan masuk. Dengan berjuta akal entah kenapa niatan untuk
memberikan bekal yang saya bawa pada satpam sekolah tiba-tiba muncul, dan
berjanji ini keterlambatan yang terakhir, untungnya satpam sekolah mau menerima
bekal itu hahahaha ada ada aja ya . Semasa SMP kegiatan favorit yang diikuti
yaitu menari daerah dan ikut tim Cheerleader
sekolah. Pulang sekolah jam 3 ,langsung latihan Cheerleader di sekolah dan sorenya jam 6 langsung les primagama,
lebih-lebih ketika kelas 9 kegiatan semakin padat. Weekend pun tidak bisa diam dirumah karena ikut les Tae Kwon Do
bersama adik dan berenang di lokasi dekat rumah. Ketika itulah saya belajar
disiplin waktu, mandiri dan belajar berani mengahadaip situasi diluar dugaan.
Masuk Sekolah Menengah Atas, tidak saya jalani di
Surabaya karena lebih memilih di SMK Telkom Malang. Disini benar-benar mendapat
banyak teman baru dari berbagai daerah, mata pelajaran yang bisa dibilang sulit
karena seharusnya diberikan untuk porsi anak kuliah tapi ini dikhususkan untuk
Telkom Malang yang berfokus pada Informatika. Bahasa – bahasa pemrograman mulai
dikenalkan pada murid SMK Telkom, karena disekolah diwajibkan membawa laptop
sebagai sarana pembelajaran yang sudah menggunakan beberapa software sebagai penunjang
pembelajaran. Banyak teman yang solid saya dapatkan pada masa itu bahkan hingga
sekarang masih terjaga komunikasinya. Angkatan 19 adalah angkatan saya. SMK
Telkom ini juga terkenal dengan solidnya hubungan antar angkatan, dan memang
terbukti relasi dari angkatan pertama sampai ankatan berapapun di SMK Telkom
yang nantinya tetap berjalan lancar. Contohnya, pengumuman lowongan kerja
selalu membanjiri calon lulusan SMK Telkom Malang, tidak sedikit alumni Telkom
Malang yang lulus langsung bekerja pada perusahaan ternama bahkan dijalani
sambil berkuliah. Dan output dari lulusan Telkom Malang banyak yang menjadi
Manajer Telkom di daerah tertentu atau bahkan di perusahaan lain. Informasi
tentang angkatan terbaru dan berita duka atau apapun dari Telkom Malang selalu
terdengar dan kami selaku alumni turut berempati jika memang ada informasi urgent. Beberapa sertifikasi Wikucup
pelatihan bisa didapat dari kegiatan Telkom Malang. Dan bangga menjadi lulusan
Telkom Malang. Sejak kelas 10, keinginan untuk berkuliah di Telkom Bandung
sudah terpikirkan, hingga pada kelas 12 semester pertama, saat itu masih dibuka
jalur pendaftaran Telkom yang pertama lewat raport
, saya ikuti dengan harapan yang sangat besar untuk diterima. Ketika
pengumuman penerimaan calon mahasiswa, entah karena apa nama saya ada di daftar
calon mahasiswa Telkom Bandung yang sudah diterima dengan jurusan yang sesusai
dengan yang saya inginkan. Puji Syukur Alhamdulillah senang luar biasa pada
saat itu.
Ketika pertama kali menginjak kota orang yang beda
wilayah, sempat merasa takut dan tidak percaya diri, apakah bisa beradaptasi
dengan budaya orang sekitar. Awalnya asrama harus wajib dihuni oleh mahasiswa
baru, yang satu kamar berisi 4 orang, tapi karena suatu hal kamar yang saya
tempati berisi 5 orang dan 3 orang mayoritas nya berasal dari Medan dengan nada
bicara yang agak tinggi dan dari Jawa hanya saya dan 1 teman saya. Namun dengan
berjalannya waktu adaptasi bisa berjalan tanpa hambatan. Teman-teman baru dari
wilayah baru saya dapatkan di kampus Telkom. Berbagai macam kepanitiaan,
kegiatan, seminar saya ikuti dengan mindset
jaman dulu untuk berburu TAK. Sebelum makin lama makin malas untuk
mengikuti kegiatan kampus maka memang sengaja saya padatkan pada semester awal.
Hingga explore ke tempat-tempat kuliner,
wisata, atau cozy place untuk
nongkrong selalu jadi keharusan untuk hangout
bersama teman-teman. Karena sekarang
uda semester tua, keinginan untuk hal-hal seperti itu menjadi sedikit berkurang
tidak se-hectic dulu. Sekarang ini
lebih memikirkan persyaratan dan target lulus yang sesuai serta mulai merancang
beberapa hal kedepan setelah lulus dari Universitas Telkom.
Beberapa hal yang uda terpikirkan setelah lulus
yaitu ingin bekerja di OJK yang sebelumnya merupakan tempat magang. Di
kantor banyak sekali pengalaman kerja
dan bertukar pikiran dengan karyawan dikantor. Budaya yang diterapkan sudah
menjadi kebiasaan yang harus dijalani sehingga terbiasa. Bertambahnya relasi
dengan beberapa orang di beberapa kantor menjadi nilai tambahan untuk saya pribadi
sehingga lebih mudah mendapatkan informasi jika sewaktu-waktu membutuhkan.
Bukan berarti menjadi karyawan selamanya menjadi target saya. Punya bisnis
pribadi uda menjadi cita-cita dari dulu. Kalau ada kesempatan dan waktu serta
segala hal yang dibuhkan uda bisa terpenuhi, punya produk kecantikan sendiri
dan butik hijab yang simple tapi
tidak terlalu syar’i menjadi impian besar dimasa yang akan datang serta bisnis
dibidang Travelling. Menjalani
kegiatan yang sesuai dengan hobby itu
lebih menyenangkan apalagi bisa menghasilkan uang di bidang sesuai kesenangan.
Untuk rencana awal memang bekerja menjadi karyawan untuk mengumpulakn
pundi-pundi modal dan semoga nantinya bisa memiliki karyawan sendiri yang
bekerja untuk bisnis saya. Tidak hanya dari segi ekonomi di masa yang akan
datang, bahkan rencana untuk pernikahan seperti Event Organizer yang meliputi gedung, catering, gaun pengantin, dekorasi ruangan, tema yang diambil sudah
ada beberapa gambaran yang terpikir pada saat ini.
Beberapa rencana diatas memang untuk pribadi,
sedangkan harapan-harapan untuk keluarga pasti ada salah satunya untuk ayah dan
ibu bisa naik haji secepatnya dan bisa beristirahat dari pekerjaan mereka. Saya
menginginkan mereka untuk hidup bahagia dirumah dengan melakukan
kegiatan-kegiatan sesuai dengan hobby
mereka bukan dengan bekerja seperti sekarang. Tetapi saya sadar semua harapan
dan rencana di masa yang akan datang tidak akan terwujud tanpa kita ber-ikhtiar ( usaha ). Usaha apa yang
dilakukan agar dapat mewujudkan harapan-harapan itu ? Itulah yang menjadi
pertanyan besar untuk saya. Tapi saat ini yang menjadi acuan untuk saya setiap
harinya adalah “Selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari” mulai dari hal-hal
kebaikan kecil akan saya lakukan terlebih jika ada orang lain yang membutuhkan.
Karena hal yang besar tidak akan terwujud tanpa ada hal-hal kecil yang sudah
kita lakukan. Untuk saat ini kegiatan maksimal yang bisa saya lakukan yaitu
menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dengan sangat baik dan tepat waktu untuk
mendapatkan nilai terbaik pada mata kuliah tersebut karena status saat ini
adalah sebagai mahasiswa. Tetapi tidak lupa dengan status sebagai anak yang
harus selalu patuh dan taat kepada orang tua, hal kecil yang saya lakukan yaitu
selalu memberi kabar tentang kegiatan yang saya lakukan di Bandung dan berusaha
untuk membuat mereka tidak khawatir. Pada intinya harapan saya kedepan, dapat
lebih mandiri dengan mampu membiayai kebutuhan diri saya secara pribadi dan
keluarga . Sempat terpikir pada waktu SD untuk menjadi penulis, karena memang
dulu saya hobby menulis kegiatan
sehari-hari dalam bentuk diary dan
orang lain yang membaca katanya sih berasa seperti ada dalam kegiatan aku itu.
Kegiatan itu rutin dilakukan sampai kelas 4 SD entah kenapa tiba-tiba terhenti
untuk menulis dan lebih memilih berkegiatan menari, yang merupakan hobby saya ketika kecil. Mungkin karena
memang masih labil jadi tidak konsisten pada satu kegiatan. Beberapa kegiatan
memang sempat saya lakukan secara rutin selama beberapa tahun namun tidak
satupun yang menjadi fokus hingga saat ini, mungkin karena belum menemukan soul pada diri sendiri.
Ketika tumbuh semakin dewasa lebih bisa memilah
kegiatan mana yang sesuai dengan kesukaan dan lebih belajar menghargai waktu.
Karena orang sukses dan orang yang biasa-biasa saja pada dasarnya sama memiliki
waktu 24 jam dalam sehari. Tetapi mengapa mereka bisa menjadi orang hebat ?
Itulah motivasi saya untuk lebih menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk
hal-hal yang lebih bermanfaat. Harapan lainnya untuk pribadi yaitu ingin
memiliki usaha kos-kosan bisa di Bandung maupun di Surabaya, bisa mendesain dan
memeiliki rumah sesuai dengan keinginan pribadi. Kendaraan pribadi yang bisa
didapat dari hasil keringat sendiri. Memang bukan hal yang mustahil apabila
semua dilakukan dengan kerja keras dan tekun. Tidak ada hal yang tidak mungkin
kecuali kita sendiri yang membuat hal tersebut menjadi tidak mungkin untuk
diwujudkan. Teman-teman disekitar, saudara-saudara dan orang tua menjadi
referensi, pengetahuan dan semangat baru untuk selalu melakukan hal lebih baik.
Relasi yang banyak mulai dari berbagai bidang dan dari segala sisi menjadi
faktor penting untuk memperoleh informasi lebih mudah terkait hal yang kita
butuhkan. Relasi memang tidak terasa manfaatnya secara langsung namun apabila
dapat menjaga komunikasi dengan beberapa rekan terdekat secara kontinyu manfaat
itu akan dirasakan ketika kita sedang merasa kesulitan. Oleh karena itu, teman
semasa sekolah, kuliah dan bekerja sangat penting untuk selalu menjaga
komunikasi yang baik dengan mereka.
Autobiografi Karina
Saya
lahir di Bandung pada tanggal 24 Maret 1996, Saya dilahirkan dengan nama
lengkap Karina Hapsari. Keluarga serta teman dekat selalu memanggil Saya dengan
panggilan Arin. Saya dan keluarga tinggal di Kota Bandung, yang beralamat
Komplek Ciwastra Indah Blok B no 6. Saya adalah anak ke tiga dari empat
bersaudara, hanya saja saudara ke dua saya meninggal pada saat setelah dilahirkan.
Jadi, saya anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah saya berketurunan Jawa dan
Sunda, nama Ayah Saya adalah Raden Tanio Adil Sunu sedangkan Ibu Saya
berketurunan Sunda hanya saja besar di Jakarta, nama Ibu Saya adalah Teti
Haryati. Saya memiliki kakak dan adik yang berjenis kelamin laki-laki. Nama kakak
Saya adalah Ristanto Adil dan telah menikah dengan seorang yang bernama Dina, sedangkan
nama adik Saya adalah Risaldi Adil. Ayah, Ibu dan Kakak Saya bekerja sebagai
Polisi dan Polwan, termasuk istri Kakak Saya yang bekerja sebagai Polwan.
Sekitar
tahun 2001, pada saat Saya berumur 4 tahun Saya masuk pendidikan Taman
Kanak-kanak dengan tingkatan nol kecil, Saya masuk TK Pasir Pogor yang berada
di Jalan Ciwastra. Antara rumah dan TK hanya menyebrang jalan, tidak memerlukan
waktu yang lama untuk sampai ke sekolah. Pada saat di TK Saya selalu diantarkan
ke sekolah oleh Almarhum Kakek serta Mang Gungun. Namun, kadang Saya diantar
jemput oleh ojek becak. Pada saat di TK Saya baru dapat mengetahui hal yang
disukai oleh Saya adalah menggambar. Hal pertama yang saya gambar adalah
pemandangan yaitu gunung, sawah, matahari dan burung.
Sesuatu
yang digambar oleh Saya pada saat TK merupakan gambar pemandangan yang digambar
oleh anak-anak yang lain pada umum. Hanya saja Saya suka sekali menggambar
namun tidak handal dalam menggambar. Pada saat Saya menyelesaikan pendidikan
nol kecil di TK, Saya langsung mendaftakan diri ke Sekolah Dasar tanpa masuk
nol besar terlebih dahulu.
Pada Saya
berumur 5 tahun, Saya masuk ke pendidikan tingkat Sekolah Dasar yang bernama
SDN Margahayu Raya 01. Di SD Saya masuk kelas A dari kelas 1 hingga kelas 6,
dengan teman-teman kelas yang tidak pernah berubah. Pelajaran yang saya sukai
pada saat SD adalah pelajaran olahraga dan pelajaran kreativitas. Saya paling
tidak suka dengan pelajaran matematika dan IPA karna terlalu rumit. Pada saat
saya kelas 4 Sd, saya memiliki kemajuan menggambar dalam pelajaran kreativitas
yaitu menggambar istana berserta orang-orang istana.
Saya sangat menyukai pelajaran kreativitas karena
menciptakan sesuatu yang belum pernah Saya lalukan dan sangat menyenangkan.
Saya pernah membuat hiasan gelas yang
berisikan agar-agar berwarna warni lalu, Saya pernah membuat boneka dari bola ping
pong dan benang wol. Selain perlajaran kreativitas, Saya menyukai pelajaran
penjaskes. Di dalam pelajaran penjaskes, Saya sangat senang apabila olahraga
yang dilakukan adalah olahraga basket dan baseball. Ekskul yang saya ikuti di
SD yaitu ekskul pencak silat, ekskul ini bukan ekskul yang saya pilih namun,
ekskul wajib yang harus diikuti. Dibandingkan Saya harus ikut pramuka lebih
baik Saya mengikuti pencak silat. Saya selalu kabur apabila pulang sekolah
harus mengikuti kegiatan pramuka. Selain kegiatan sekolah, Saya mengikuti
kegiatan diluar sekolah yaitu les piano klasik. Ibu Saya mendaftarkan saya ke
tempat les musik dengan alasan, agar Saya memiliki keahlian. Namun, karena les
piano klasik itu sulit jadi, Saya hanya bertahan les sebulan karena Saya belum
menemukan rasa suka kepada alat musik piano. Pada saat saya kelas 5 SD Saya
pernah ditunjuk perwakilan sekolah untuk ikut ke Perpustakaan Daerah (PUSDA),
Saya juga merasa bingung kenapa Saya dapat terpilih mewakili sekolah. Sedangkan
pada saat kelas 6 SD Saya pernah mengikuti sebuah pentas seni drama, biasanya
disebut “kabaret”. Kabaret tersebut menceritakan tentang cinderella namun
ceritanya digabung dengan cerita-cerita rakyat lainnya, ceritanya bertema
humor. Saya berperan sebagai putri Lady Diana didalam sebuah drama tersebut.
Banyak sekali pengalaman yang Saya ingat pada saat Saya berada di tingkat
sekolah dasar, Saya dan teman-teman kelas pernah membantu salah satu teman kami
dengan berjualan kue basah di sekolah dan juga belajar membuat kue basah. Pada
saat kelas 6 SD dengan wali kelas yang bernama Bu Ros, kami dituntut untuk
dapat mematuhi aturan yang telah disepakati selain ketentuan aturan dari
sekolah. Aturan tersebut ialah kami diharuskan membawa bekal dari rumah untuk
jam istirahat, bekal tersebut harus berisikan makanan berat empat sehat lima
sempurna dan mengerjakan sholat wajib. Walaupun Bu Ros beragama non islam
namun, Bu Ros selalu mengingatkan anak-anak kelasnya untuk beribadah. Banyak
sekali kesan dan pesan yang menarik selama Saya bersekolah di SDN Margahayu
Raya 01. Pentas seni perpisahaan sekolah kami semua mementaskan sebuah seni
baik itu tarian maupun musik.Setelah acara perpisahan selesai kami pun
berkumpul untuk berpamitan dan kami membicarakan tentang keterima kami di
sekolah menengah pertama pada masing-masing orang.
Setelah menempuh sekolah dasar selama 6 tahun, Saya
diterima ketingkat yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah pertama SMP. Saya
bersekolah di SMPN 51 Bandung, pada saat Saya bersekolah di SMP tersebut Saya
selalu kena sindiran dari saudara saya yang tingkatannya lebih muda satu
tingkat dari Saya, namun kita lahir ditahun yang sama. Nama saudara Saya yang
selalu mengejek Saya karna sekolah di SMPN 51 adalah Kiki dan Kania, untuk
Kania Saya selalu memanggilnya dengan sebutan Novi. Mereka mengejek Saya karena
Saya sekolah di daerah yang bukan di kota. Walaupun Saya kesal selalu disindir
oleh mereka tapi Saya tidak pernah membalas mereka karena sindiran mereka
memang benar, sekolah Saya berapa di kabupaten bukan di kota. Saya di SMP
mengikuti ekskul basket dan kijarpara. Kijarpara merupakan ekskul seperti baris
berbaris dan pengibaran bendera. Pelatih
Kijarpara bernama Bang Seto, Bang Surya, Kang Tresna dan Teh Devi. Selama
latihan kami selalu seriu karna latihan kijarpara sama saja seperti latihan
mental, semua pelatihnya selama melatih kami selalu bersikap menyeramkan karna
secara berteriak-teriak. Selama menjalani ekskul Kijarpara Saya sudah lebih
dari 5 kali lomba dan selalu membawa piala untuk sekolah. Walaupun Saya lebih
fokus latihan Kijarpara namun, Saya selalu membagi waktu untuk sekolah dan
latihan basket. Selama Saya latihan basket, pengalaman Saya selama masuk ekskul
basket adalah mengikuti pertandingan di SMPN 34 namun, saya kalah dalam
pertandingan tersebut. Setelah kami kalah dalam pertandingan tersebut, kami
semakin giat latihan dan mengundah SMP lain untuk mengajak pertandingan
persahabatan. Setahun kemudian, pada saat Saya masuk kelas dua SMP. Saya
mendapatkan kabar kalau Kiki dan Novi, saudara Saya yang selalu mengejek Saya
karna sekolah di SMP 51 mereka masuk ke SMPN 51 yaitu SMP yang sama bersama
dengan Saya. Mereka menjadi adik kelas Saya di SMPN 51, setelah itu mereka
mulai merasa menyesal karna sudah mengejek Saya. Akhirnya Saya, Kiki dan Novi
pun satu sekolah namun masing-masing teman dari kami tidak mengetahui kalau
kami itu saudara. Novi bergabung dengan ekskul yang sama dengan Saya yaitu
basket dan kijarpara, sedangkan Kiki masuk ekskul basket. Pada saat latihan
basket, Saya dikira pacaran dengan Kiki oleh teman-teman basket karena Saya,
Kiki dan Novi selalu datang ke sekolah dan latihan basket secara bersamaan baik
pergi maupun pulang. Padahal mereka tidak tahu kalau Saya dan Kiki itu
bersaudara dan Saya sudah memberitahu kepada mereka kalau Saya dan Kiki itu
bersaudara namun, mereka tetap tidak percaya dan sangat senang hal tersebut
dijadikan sebuah gosip. Semenjak di SMP, Saya baru mengetahui apa itu yang namanya
pacaran karena lingkungan teman-teman Saya yang memiliki pacar baik itu teman
sekelas, adik kelas dan kakak kelas. Tapi itu tidak membuat Saya untuk
berpikiran pacaran. Di SMP Saya memiliki cita-cita sebagai dokter, cita-cita
umum yang diinginkan oleh anak-anak. Menurut Saya pekerjaan dokter merupakan
perkerjaan yang mulia karna dokter bertugas untuk menyembuhkan orang yang sakit
dan menyelamatkan orang yang terluka, itu pemikiran Saya pada saat Saya di SMP.
Selama di SMP banyak sekali yang dirasakan, merasa resah karena takut tidak
lulus UN. Pemikiran Saya saat SMP mengenai UN yaitu hal yang memalukan dan
merasa gagal jika tidak lulus UN. Setelah
menjalankan tiga tahun yang mengesankan di SMP, Saya dan teman-teman Saya harus
berpisah untuk menempuh tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA ataupun SMK.
Pada tahun 2011 Saya menempuh pendidikan lebih
tinggi dari SMP yaitu sekolah di SMAN 25 Bandung yang berada di Jl.Baturaden.
Hari pertama masuk SMA, pertama kalinya Saya merasakan OSPEK sebelum mengikuti
pelajaran akademis di SMA. Hal pertama yang Saya rasakan ketika OSPEK yaitu
suasana yang tegang karena senior-senior yang menjadi panitia OSPEK berbicara
dengan nada yang keras dan menampakan mimik muka yang jutek biasanya
senior-senior tersebut dinamakan TATIB (Tatat Tertib). Ketika OSPEK Saya kena
hukum TATIB, dikarenakan Saya memakai kaos kaki yang berwarna merah muda,
seharusnya kaos kaki yang dipakai berwarna putih. Hari terakhir OSPEK kami
sebagai murid bari dan senior-senior selaku panitia OSPEK, kami saling
berkenalan dan saling meminta maaf.
Setelah beberapa hari bersekolah di SMA, Saya masuk
kelas 1 c di SMAN 25 Bandung dengan wali kelas yang bernama Bapak Adrian. Bapak
Adrian adalah wali kelas saya di kelas satu, Pak Adrian mengajar sebagai guru
bahasa Inggris. Pada saat waktunya untuk memilih ekskul, ekskul yang Saya pilih
adalah basket, paskibra (ekskul wajib disekolah). Selain itu, saya mendaftar
untuk menjadi pengurus OSIS. Agar dapat menjadi pengurus OSIS, Saya harus
melewati tahapan atau sebuah test yang dibuat senior untuk menjadi pengurus
OSIS. Tahapan itupun telah dilewati oleh Saya dan Saya resmi menjadi anggota
dari pengurus OSIS. Untuk di basket, Saya selalu mengikuti latihan di hari
sabtu dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota basket
lainnya. Namun, setelah Saya ikut bergabung dalam organisasi Paskibra di SMA,
Saya mulai meninggalkan ekskul basket. Selain mengikuti Paskibra di SMA, Saya
harus mengikuti kegiatan yang ada di Paskibra Kota Bandung dan untuk anak kelas
satu itu masih disebut sebagai CAPAS (Calon Paskibra). Untuk menjadi anggota
Paskibra Kota Bandung Saya harus mengikuti pelatihan yang sangat panjang
sekali. Selama setahun Saya menjadi CAPAS, Saya harus mengikuti LATGAB (Latihan
Gabungan) yaitu latihan calon anggota paskibra diseluruh sekolah yang ada di
Kota Bandung, latihan tersebut diadakan selama sebulan sekali di Balai Kota.
Selain Latgab, masih banyak pelatihan lainnya yaitu Latsa,diklatsar, dan
asrama. Hingga akhirnya Saya dapat mengikuti asrama Paskibra Kota Bandung
selama 10 hari di SMAN 2 Bandung. Kami dilatih mental, disiplin dan tanggung
jawab, selalu dimarah-marahi dan latihan baris-berbaris dilapangan dengan terik
matahari yang panas. Selama asrama kami diajari bagaimana untuk mendapatkan
sesuatu itu tidak mudah dan membutuhkan pengorbanan. Setelah menjadi anggota
Paskibra Kota Bandung, Saya disarankan oleh senior Saya di Paskibra untuk
mengikuti pendaftaran menjadi Paskibraka Kota Bandung untuk penugasan pada
tanggal 17 Agustus, awalnya Saya tidak tertarik untuk mengikuti Paskibraka
namun Saya dipaksa. Akhirnya Saya mengikuti test Pakibraka yaitu test wawasan,
kesahatan, jasmani dan wawancara dengan bahasa sunda dan inggris. Setelah Saya
selesai mengikuti test tersebut, akhirnya pada saat pengumuman yang keterima
pun tiba, dan nama Saya disebut sebagai anggota Paskibraka Bandung. Saya pun
mengikuti pelatihan Paskibraka Kota Bandung dan akhirnya Saya dapat ikut serta
dalam pengibaran bendera pusaka milik Indonesia di Balai Kota pada tanggal 17
agustus 2011. Selama tiga tahun menjalankan pendidikan di SMA banyak sekali
pengalaman baru di kelas IPA dan menjadi anggota Paskibra Kota Bandung. Selain
itu, Saya terpilih untuk menjadi pengurus di Paskibra Kota Bandung sebagai
HUMAS. Namun setelah kelas 3 SMA, Saya mulai fokus belajar untuk menjalankan UN
dan test masuk ke Universitas. Pada saat kelas 3 SMA, Saya mulai mengikuti test
di Universitas Swasta. Saya mengikuti test di UNPAR namun tidak diterima, lalu
Saya mengikuti test di Universitas Telkom dan akhiirnya Saya diterima di
jurusan MBTI di Telkom University. Saya selama di SMA tidak mengikuti tes
SBMPTN namun Saya mengikuti tes SNMPTN (tes jalur undangan). Namun orang tua
Saya meminta Saya untuk langsung daftra ke Universitas Telkom. Akhirnya Saya
pun mendaftar untuk dapat menjadi mahasiswi Universitas Telkom. Sebenarnya pada
saat Saya SMA, Saya berharap dapat mendaftar ke jurusan psikolog, awalnya Saya
ingin mendaftarkan diri ke psikolog UNISBA namun, tidak diijinkan oleh Tante
Saya dengan alasan tertentu yang membuat Saya menangis. Akhirnya Saya mengubah
pikiran Saya lebih positif dengan menjalankan kuliah di Universitas Telkom.
Saya berharap dengan berkuliah di MBTI tidak sulit dengan matakuliahnya dan
dapat enjoy berkuliah di MBTI. Selama libur sekolah dengan waktu yang sangat
panjang, Saya mengikuti les piano. Awal dari Saya ingin les piano karena Saya
melihat teman Saya bermain piano dan Saya pun tertantang untuk mengenal alat
musik piano. Sebelumnya, waktu SD Saya pernah dileskan oleh Ibu Saya les piano
klasik tapi Saya tetap tidak bisa karena belum ada ketertarikan dan waktu SMP
saya dileskan oleh Ibu Saya yaitu les gitar klasik tapi tetap saya tidak bisa.
Saya berharap dapat diikutkan les menggambar namun tidak terlaksana.
Pada tahun 2013 Saya mengikuti OSPEK di Universitas
Telkom. OSPEK di Universitas Telkom yang dijalakan 3 hari karena yang Saya
dengar OSPEKnya itu diberhentikan dengan alasan tertentu. Di kampus Saya
berteman dekat dengan Anggita, Anggi, Citra, Rahmah, Rezki, Faisal, Emunda dan
Laras. Laras adalah teman Saya dari semenjak kelas 2 SMA. Semenjak menempuh
pendidikan di Universitas Telkom, Saya mulai terpikir sebuah cita-cita yang
sesungguhnya yaitu Saya ingin sekali dapat bergabung di perusahaan media. Saya
mulai menghilangkan cita-cita kecil saya untuk menjadi dokter. Pada saat waktu
magang, Saya memilih magang di perusahaan media yaitu di Pikiran Rakyat di
bagian Marketing Komunikasi dan disana Saya banyak sekali pengalaman dalam
menghadapi masyarakat dan konsumen. Selain itu, Saya pernah diajak untuk ikut
wawancara sebuah komunitas dan membantu dalam peluncuran aplikasi PR.
Setelah lulus kuliah, Saya berencana untuk
mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan media untuk berkerja. Namun, Ibu
Saya memberikan saran untuk melanjutkan kuliah ke S2. Saran Ibu Saya dapat Saya
pikirkan terlebih dahulu namun Saya belum bisa memberikan keputusan. Saya
berharap diumur 25 tahun Saya sudah memiliki jodoh direstui oleh Allah SWT dan
Saya memiliki sebuah keluarga yang diharapkan “amin”.
Autobiografi Faishal
Faishal
Nur Pambudi, itulah nama lengkap saya. Banyak pepatah yang mengatakan bahwa
nama adalah doa orang tua yang dititipkan oleh orang tua kita. Mungkin pepatah
itu benar, karena arti dari nama saya cukup berat yaitu seorang pemimpin yang
disinari cahaya dari surga. Dengan nama tersebut saya selalu berusaha untuk
menjadi seorang pemimpin yang baik di lingkungan saya. saya beranggapan menjadi
pemimpin tidak harus memimpin sebuah pasukan, namun dengan menjadi orang yang
bisa menjadi panutan banyak orang itu sudah cukup menjadikan saya seorang
pemimpin. Karang Lewas Lor, desa kecil dipinggiran kota Purwokerto Jawa Tengah
yang menjadi tempat saya dilahirkan pada tanggal 02 Juli 1994. Desa yang damai
dan penuh keramahan yang sampai saat ini menjadi tempat yang selalu saya
rindukan karena hingga umur 3 tahun saya tinggal di desa tersebut.
Ayah
saya bernama Heri Suprapto beliau lahir dari keluarga dengan latar belakang seorang
guru dan seorang petani di desa tempat saya dilahirkan. Sejak kecil ayah saja
sudah dididik untuk menjadi seseorang yang mandiri dan hidup sederhana. Tidak
banyak kemewahan yang bisa dirasakan oleh beliau. Masa kecilnya dihabiskan bermain di sawah,
sungai dan kebun. Tapi beliau mendapat pendidikan yang baik terbukti dia adalah
lulusan dari Universtas Pendidikan Indonesia. Gurat wajah beliau sangat jelas
menggambarkan bahwa beliau adalah orang yang tidak pernah untuk berjuang demi
keluarganya dari kecil hingga sekarang. Dengan mata saya sendiri saya melihat
bagaimana perjuangan seorang ayah yang berjuang membangun keluarga dari bawah.
Beliau adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Walaupun hidup dengan sederhana
mereka berempat berhasil menyesaikan pendidikan mereka hingga tingkat perguruan
tinggi. Beliau kini bekerja menjadi guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama
di kota Cirebon.
Ibu
saya bernama Enisa yang dilahirkan dari keluarga pebisnis batik di daerah Trusmi,
Cirebon. Masa kecil beliau cukup berbeda dengan yang dialami oleh ayah saya.
Lahir dari keluarga yang serba ada, menjadikan semasa kecil beliau tumbuh
menjadi anak yang manja. Bisnis batik yang dijalani oleh keluarga beliau cukup
suskes hingga sekarang. Beliau adalah anak kedua dari 8 bersaudara. Beliau
sempat menjadi guru di salah satu sekolah swasta di Cirebon. Sekarang beliau memiliki
toko sembako kecil di dekat rumah, tidak jarang beliaupun membantu nenek saya untuk mengelola bisnis batiknya.
Selang
4 tahun setelah saya dilahirkan, Allah SWT kembali menitipkan anugrahnya kepada
orangtua saya yaitu seorang anak perempuan yang diberi nama Amalia Nur
Listiyani. Dialah adik perempuan saya yang sekarang bersekolah di salah satu
Sekolah Menengah Atas di kota Cirebon. Ketika dia lahir kami sudah menetap di
Cirebon. Namun, dia dilahirkan di Purwokerto. Dia tumbuh sebagai anak yang
rajin, bahkan lebih pintar daripada saya. Sayangnya dia sedikit malas untuk
membantu ibu dalam mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sehingga apabila saya
sedang pulang ke rumah, beberapa pekerjaan tersebut saya yang membereskannya.
Tidak
banyak yang bisa dicerikatan dimasa kecil saya. Walaupun keluarga dari ibu saya
adalah keluarga yang tergolong berada, namun saya tidak merasakan itu. Saya
pindah ke kota Cirebon diumur 3 tahun. Hidup di pinggiran kota cirebon dengan
rumah kontrakan yang kecil di daerah Cangkol, disitu lah saya menghabiskan masa
kecil saya bermain seperti layaknya anak kecil pada umumnya. Selang 2 tahun
saya pindah ke rumah peninggalan buyut saya di daerah Trusmi. Trusmi adalah
salah satu sentra batik di Cirebon tempat dimana bisnis nenek saya berkembang.
Kehidupan keluarga saya sedikit demi sedikit berangsur membaik. Ayah dan ibu
saya bahu membahu bekerja untuk membesarkan keluarga kecil ini. Perjuangan
mereka membangun sebuah keluarga sangat berat, tanpa bekal bantuan dari kedua
orangtua mereka, mereka bisa membuat saya merasa nyaman dengan kesederhanaan
dan hangatnya kasih sayang yang selalu meraka curahkan kepada saya.
Meninggalkan
cerita pilu saya. Kita mulai dengan pendidikan formal pertama yang saya
dapatkan di TK Nurussaadah Panembahan. TK tersebut tidak jauh dari rumah saya,
sekitar 1km jaraknya. Selama 2 tahun saya menimba ilmu dasar disana. Sebenarnya
usiaku terbilang terlambat untuk masuk TK. 1 tahun pertama saya selalu ditemani
oleh ibu, namun pada tahun berikutnya saya sudah berani untuk berangkat
sendiri. Kesehariannya saya berangkat dan pulang menunggunakan becak. Setiap
hari jumat, terdapat acara makan bersama ketika jam istirahat, biasanya makanan
yang disediakan adalah nasi kuning ataupun nasi uduk, saya bisa merasakan canda
khas anak anak saat kita makan bersama sama. Saat perpisahan TK, saya dan
beberapa teman melalukan sebuah persembahan untuk para guru dengan menampilkan
sebuah musikalisasi puisi serta beberapa tarian. Momen itu yang tidak akan
pernah saya lupakan selama saya TK.
Seharusnya
pada usia 6 tahun saya sudah masuk SD. Tetapi kedua orang tua saya mengikuti
program pemerintah yang meminta orang tua memasukkan anak sekolah dasar pada
usia 7 tahun. Alhasil saya pun menjadi sedikit lebih tua dibandingkan dengan
yang lain. Pendidikan saya berlanjut di SD Negeri 1 Panembahan. Letaknya
bersebelahan dari TK saya dulu. SD tersebut tergolong SD yang bagus didaerah
itu. Semasa SD saya adalah murid unggulan karena kemampuan saya sudah diatas
rata-rata jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Dari kelas 1 hingga
kelas 5 saya memperoleh ranking 1, hingga pada kelas 5 SD saya ditunjuk oleh
sekolah untuk mewakili SD Negeri Panembahan 1 dalam ajang murid berprestasi
tingkat kabupaten Cirebon. Alhamdulillah saya mendapatkan juara kedua dan
mewakili Kabupaten cirebon melaju ke tingkat provinsi untuk mata pelajaran
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Namun perjuangan saya harus terhenti di
tingkat provinsi karena saya hanya masuk peringkat 5.
Setiap
hari saya kayuh sepada merah saya untuk menuju ke sekolah. Ya, sejak kelas 1
hingga kelas 6 saya menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah. Ketidak
sengajaan saya bertemu dengan reza, iskandar dan fahrizal di parkiran saat hari
pertama masuk sekolah membuat kita berteman dekat. Setiap hari kita berempat
selalu berangkat bersama. Sepulang sekolah kita sering bermain di dekat
lapangan sekolah dengan teman-teman kelas lainnya. Mereka senang bermain
futsal. Karena saya tidak begitu suka dengan permainan futsal, saya hanya duduk
dipinggiran lapangan. Ada satu orang yang selalu menemani saya ketika teman
yang lain sedang bermain bola, Ade Solehudin sosok dengan tubuh gempalnya
selalu menemani saya. Dia adalah anak dari juragan kerupuk di daerah kami.
Pertemanan saya dengan Ade semakin dekat ketika kita sering pulang bersama.
Saya sering menyunjungi rumah dia sehabis pulang sekolah. Pertemanan kita sangat dekat hingga saya
sering menginap dirumah dia. Semenjak lulus SD saya sangat jarang bertemu dengan
dia, karena kesibukan kita sudah sangat berbeda. Beberapa tahun saya tidak
mendengar kabarnya. Dan sekitar 3 tahun lalu saya mendengar bahwa dia sudah
berpulang kehadapan Allah SWT karena penyakit jantung yang diidapnya. Yang
sangat saya sesali adalah entah kapan
kita saling bertemu sebelum dia wafat dan saya tidak sempat melayat dan melihat
dia untuk yang terakhir kali karena pada saat itu saya masih berada di Bandung
dan tidak memungkinkan untuk saya pulang. 1 hal yang bisa saya maknai dari
pertemanan saya dimasa SD adalah pertemanan anak anak desa yang selalu berfikir
untuk bermain tanpa membuang uang orang tua namun kita masih bisa bercanda dan
bersenang senang bersama. Saya sangat merindukan kebersamaan itu.
Berbekal
piagam murid berprestasi tersebut saya memberanikan diri untuk melanjutkan
pendidikan sekolah menengah pertama di kota karena pada saat itu SD saya memang
berada di desa. Hanya ada 3 orang dari SD Panembahan 1 yang melanjutkan
pendidikan SMP di kota, salah satunya adalah saya. walaupun saya memiliki
prestasi murid teladan, namun saya tetap harus mengikuti tes seleksi masuk. Saya
tidak merasa yakin bisa lulus tes tersebut karena soal ujian yang saya kerjakan
sangat susah. Alhamdulillah ketika saya melihat pengumuman di mading sekolah,
ternyata saya berhasil diterima di SMP Negeri 1 Kota Cirebon dengan kelas
unggulan. Adaptasi yang cukup lama membuat saya tidak memiliki banyak teman. Perbedaan
gaya hidup dan pertemanan antara anak-anak desa dan kota membuat saya sedikit
kaget. Teman pertama saya adalah Pratiwi, itupun karena kita menggunakan angkot
yang sama ketika pulang. Setiap pagi saya berangkat bersama ayah dan adik saya
menggunakan motor karena pada saat itu Sekolah Dasar adik saya dekat dengan
sekolah saya. Saat itu keluarga saya belum mempunyai mobil sehingga terpaksa
ayah mengantarkan saya dan adik saya menggunakan motor. Terkadang saya merasa
malu karena menggunakan motor bertiga, karena rata-rata yang bersekolah di SMP
tersebut adalah orang-orang yang mampu secara finansial. Namun ketika saya
mulai mengeluh atau malu saya selalu berifikir untuk apa saya malu, saya harus
bangga karena saya mengetahui perjuangan ayah saya untuk memperjungkan
pendidikan anak-anaknya.
Satu
tahun adalah waktu yang cukup lama untuk saya beradaptasi dengan lingkungan
perkotaan. Beranjak kelas dua, saya sudah mulai berteman dengan beberapa orang
dan sudah menyukai seorang gadis bernama Gina Nur Kholidiah. Perawakan arab nya
membuat saya tertarik dengan dia. Dengan masa pendekatan yang singkat akhirnya
saya menjalin hubungan dengan dia, namun ketika itu saya terlalu sibuk dengan
tugas yang cukup banyak sehingga saya bersikap cuek, kita hanya menjalin
hubungan sekitar empat bulan. Namun setelah itu kita berdua tetap berteman,
bahkan anehnya setelah kejadian tersebut kita menjadi teman dengan hingga saat
ini. Pambudi’s Family adalah nama “geng” saya saat SMP. Asal mula nama
Pambudi’s Family adalah karena saya adalah satu satunya laki-laki yang ada di
“geng” tersebut dan nama pambudi adalah nama belakang saya. Semenjak SMP saya
memang lebih dekat dengat perempuan daripada dengan laki-laki. Gina, Mutia,
Icah, Sofi, Asti, Heda, Ferti, Alvira mereka lah sahabat sahabat terbaik saya
ketika SMP. Sepulang sekolah kita sering pergi ke salah satu mall yang berada
dekat sekolah kami. Kami sering main “Dance
Dance Revolution” di pusat game master yang ada di mall tersebut. Gaya
bermain saya ketika SMP memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan SD. Tapi
saya pikir hal tersebut adalah wajar, karena lingkungan ketika saya SD dan SMP
jauh berbeda. Pertemanan kami bersembilan tetap terjalin dekat hingga sekarang.
Ketika liburan kuliah kami selalu menyempatkan diri untuk saling berkumpul.
Bersekolah
di sekolah unggulan membuat saya memiliki banyak saingan dalam bidang akademik.
Pola pembelajaran yang diterapkan juga sangat berbeda dibandingkan ketika di
SD. Hal itu membuat saya menjadi anak yang biasa saja dikelas, bukan dalam
golongan anak bodoh namun tidak bisa dikatakan golongan anak pintar. Selama
tiga tahun saya bersekolah hanya 2 kali saya masuk ranking 10 besar. Guru yang
paling saya ingat adalah guru matematika saya ketika kelas dua yang bernama Ibu
Nani. Beliau menjadi guru yang sangat ditakuti karena sangat galak saat
mengajar dan susah. Jika kita ingin mendapatkan nilai yang bagus, kita harus
mengikuti les yang diadakan beliau dirumahnya. Mau tidak mau untuk menunjang nilai
rapot, saya terpaksa ikut les tambahan dengan beliau. Beranjak kelas tiga saya
sudah mulai fokus untuk menghadapi Ujian Nasional. Program sekolah mengharuskan
murid kelas tiga mengikuti pengayaan setiap hari jam 06.00 pagi. Setiap
pengayaan saya selalu merasa sangat mengantuk karena bagi saya itu terlalu
pagi. Nilai Ujian Nasional yang saya dapatkan cukup tinggi dengan rata rata
nilai 8,90. Nilai tersebut menjadi bekal saya untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas.
Tidak
sulit untuk menentukan Sekolah Menengah Atas yang saya inginkan. Karena hanya
ada 2 Sekolah Menegah Atas yang menjadi favorit pada saat itu. Saya memilih SMA
Negeri 1 Cirebon untuk melanjutkan pendidikan saya. Saat itu saya tidak begitu
sulit untuk beradaptasi karena hampir dari setengah siswa nya adalah siswa SMP
Negeri 1 Cirebon. Ekstra kulikuler yang saya pilih saat SMA adalah Palang Merah
Remaja. Saya menekuni dunia Palang Merah Remaja sejak SMP namun ketika SMP saya
tidak serius menggeluti ekstra kulikuler tersebut. Saya banyak mendapat teman
dan pengalaman selama mengikuti PMR. Pengelaman yang paling menarik ketika saya
mengikuti lomba Jambore PMR Tingkat Nasional mewakili kota Cirebon. banyak
sekali kenangan ketika melakukan latihan. Biasanya kami berlatih dari jam 16.00
hingga 18.00. Program yang SMA saya terapkan adalah full days school sehingga saya masuk jam 07.00 hingga 15.30.
Masih
ingat dengan Ferti ? sahabat saya semasa SMP, ternyata 1 kelas dengan saya
ketika kelas 1 SMA, terlebih saya ditunjuk sebagai Ketua Kelas sehingga saya
tidak susah untuk menemukan teman. Setelah sebulan berlalu saya mulai dekat
dengan teman yang lainnya, seperti Nabil, Ola, Thalia, dan Dara. Kita berenam termasuk Ferti menjadi sahabat dekat. Kita
berbeda kelas ketika penentuan jurusan. Pilihan selalu ada dalam hidup kita,
dan kita harus bisa nementukan pilihan kita dan mengambil semua resiko yang
ada. Begitupun yang saya lakukan ketika kenaikan kelas dua, saya harus memilih
jurusan antara Ilmu Pengetahua Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Ola dan saya memilih jurusan IPA sementara Nabil, Thalia, Dara, dan Ferti
memilih jurusan IPS. Nilai rapot yang saya dapatkan bisa masuk kedua jurusan tersebut
jadi saya memilih untuk masuk jurusan IPS, namun seminggu setelah itu ibu saya
mengubah jurusan saya menjadi IPA dengan alasan jurusan IPA akan lebih luas
dalam memilih jurusan pada saat kuliah nanti. Dengan terpaksa saya harus mengikuti
kemauan ibu saya, padahal saya kurang begitu suka dengan mata pelajaran Fisika.
Dari kelas satu hingga kelas tiga SMA, saya selalu mengikuti les fisika yang
diadakan oleh guru. Namun tetap saja saya kurang paham mengenai pelajaran
fisika.
Memasuki
kelas 3 SMA saya sudah mulai berhenti untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler
PMR yang saya geluti. Saya mengikuti pembelajaran tambahan di salah satu
lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation. Saya menjalani kelas tiga SMA
dengan sangat berat karena pagi hari saya harus sudah berangkat sekolah pukul
06.00 hingga 15.30 setelah itu dilanjutkan dengan bimbingan belajar sampai jam
18.00. Sesampainya dirumah saya tidak sempat untuk mengulang beberapa mata
pelajaran dan mengerjakan PR karena saya sudah merasa sangat lelah. Pemikiran
saya terbagi ketika saya harus memillih Universitas mana yang akan saya pilih
untuk melanjutkan pendidikan. Saya tidak ingin masuk jurusan yang mempunyai
unsur fisika sedangkan itu tidak mungkin karena saya berasal dari jurusan IPA
yang notabene semua jurusan diperkuliahan mengandung mata kuliah fisika.
Akhirnya saya memutuskan untuk cross jurusan.
Latar belakang keluarga dari ibu saya banyak yang bekerja di bidang
telekomunikasi lah yang membuat saya memutuskan untuk mendaftar di Telkom
University dan tentunya saya memilih jurusan IPS. Pada saat saya mendengar
pengumuman pendaftaran Telkom University sudah dibuka, saya langsung mendaftar
dengan jurusan yang saya pilih adalah MBTI. Selang beberapa minggu kemudian
saya mendapat kabar dari guru bimbingan konseling bahwa saya berhasil jurusan
tersebut. Setelah saya dinyatakan diterima, tidak pikir panjang saya langsung
memantapkan hati untuk tidak mendaftar ke universitas yang lain. Adapun saya
mengikuti jalur seleksi undangan perguruan tinggi hanya untuk formalitas dari
sekolah. Saat itu salah memilih administrasi fiskal di Universitas Indonesia.
Dan hasilnya sudah bisa ditebak, saya tidak berhasil masuk ke jurusan tersebut.
Hari
pelaksanaan Ujian Nasional pun tiba. Hal yang saya takutkan pun terjadi. Ketika
mata pelajaran Fisika banyak soal yang tidak bisa saya kerjaan. Namun ternyata
teman-teman yang lain juga banyak yang tidak bisa mengerjakan soal fisika
tersebut. Saya sedikit lega karena ternyata bukan hanya saya yang tidak bisa. Beberapa
minggu kemudian saya dinyatakan lulus ujian nasional dengan nilai terendah
adalah fisika. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu karena memang dari awal
masuk SMA saya tidak begitu mengerti dengan mata pelajaran tersebut, dan kedua
orangtua saya memaklumi hal tersebut.
03
Agustus 2013 adalah langkah awal saya untuk memasuki dunia yang baru yang penuh
kemandirian. Tanggal itu adalah hari pertama saya pergi ke Bandung untuk
memulai pendidikan Universitas saya. Tinggal di kota yang bisa dibilang asing
bagi saya, membuat saya terlalu banyak berfikir. Rasa sedih karena harus
meninggalkan orangtua, rasa takut dengan orang sekeliling, rasa sendiri karena
belum mempunyai tumpuan, dan masih banyak rasa yang lain selalu berkecambuk
dalam hati. Saya hanya bisa berdoa agar segala sesuatu yang saya lakukan disini
bisa menjadi jalan yang baik untuk masa depan saya. wajah ayah dan ibu selalu
menjadi penyemangat agar saya bisa sukses disini dan membuat keadaan keluarga
kami jauh lebih baik dari sekarang.
Tinggal
di asrama membuat saya sedikit berlega hati karena setidaknya saya tidak susdah
untuk mencari teman baru. 316 adalah nomer kamer asrama saya bersama dengan
Faldi, Fariz, dan Fahrizal. Banyak penyesuaian yang harus saya lakukan karena
harus tinggal empat orang yang tentu memiliki watak yang berbeda beda. Namun
saya tidak langsung menempati asrama laki-laki yang berada di kampus karena
pada saat itu asrama masih dalam tahap pembangunan. Saya dan teman teman
mahasiswa baru yang lainnya harus tinggal di asrama Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI). Masa orientasi mahasiswa baru saya lewati ketika masih berada
di asrama UPI sehingga saya harus bangun lebih pagi karena jarak yang jauh
antara UPI dan kampus saya. Saat orientasi, ayah selalu membantu saya dalam
mempersiapkan segala sesuatu yang harus saya bawa ketika orientasi berlangsung.
Beliau rela tidak tidur karena membuat tas dari karung goni untuk saya dan
masih banyak lagi bantuan yang beliau berikan ketika masa orientasi tersebut.
Saya merasa sangat bersyukur memiliki ayah seperti beliau.
Hari
pertama kuliah saya sudah pindah ke gedung asrama yang baru yang berda di
lingkungan kampus. Karena saya belum bisa mengendarai motor maka saat itu saya
pulang dan pergi ke kampus selalu jalan kaki. MBTI-D adalah kelas inti yang
saya dapatkan. Awalnya saya merasa sangat malu karena saya berasal dari kota
kecil dan bisa dibilang saya “cupu” dibandingkan dengan teman-teman yang lain.
Lagi. Saya susah beradaptasi dengan teman-teman yang ada disana. Terbiasa
dengan teman perempuan saya menjadi susah untuk mendapatkan teman laki-laki.
Tiga bulan pertama saya tidak memiliki teman dekat, namun suatu ketika saya
memberanikan diri untuk mendekati teme-teman perempuan yang ada dikelas. Laras,
Karina, Citra, dan Emunda adalah teman dekat pertama saya. Saat istirahat saya
ikut mereka ke kantin untuk makan, berawal dari itu saya dekat dengan mereka.
Tidak lama setelah itu kita membuat “geng” yang bernama Cabs yang beranggotakan
saya, Laras, Karina, Citra, Emund, Anggita, Anggi, Rahmah, Rezki. Hingga
sekarang mereka lah teman teman yang selalu menemani saya. lambat laun saya
sudah bisa merasa beradaptasi dengan lingkungan baru saya.
Organisasi
merupakan hal penting dalam proses pengembangan diri. Banyak organisasi yang
tersedia di Telkom University, seperti Himpunan Mahasiswa ataupun beberapa Unit
Kegitan Mahasiswa. Beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yang pernah saya coba
adalah Choir, dan Bengkel Seni Embun. Namun saya hanya satu tahun mengikuti organisasi
tersebut karena menurut saya organisasi akan mengikat saya dan hal itu
memberatkan ruang gerak saya untuk mengerjakan hal lain. Untuk menambah
keaktifan dan pengembangan diri, saya lebih suka bergabung dalam kepanitiaan
beberapa acara seperti acara pengabdian masyarakat, olahraga, dan acara musik.
Karena menurut saya dengan kepanitiaan tersebut akan lebih banyak mempunyai
relasi dan keterikatan yang sementara membuat saya masih bisa melakukan hal
yang lainnya. Pengalaman tersebut membuat saya sering ditunjuk sebagai ketua
pada divisi acara.
Berbicara
masalah nilai, saya bersyukur dengan nilai yang telah saya dapatkan hingga saat
ini, walaupun belum mencapai nilai cumlaude. Namun apabila nilai semester akhir
ini bagus, insyallah saya bisa mendapatkan nilai cumlaude. Mahasiswa mana yang
tidak menginginkan nilai tersebut. Makadari itu saat ini adalah perjuangan
akhir saya untuk menyelesaikan perkuliahan yang telah saya jalani hampir 4
tahun. Semester ini saya sudah mulai menyusun skripsi. Lulus tepat waktu dengan
nilai yang memuaskan adalah salah satu kebahagiaan yang bisa saya berikan
kepada kedua orangtua saya saat ini. Saya akan membayar segala pengorbanan dn
jerih payah orangtua saya dengan hal tersebut selagi saya belum bekerja. Jika
berbicara perjuangan orangtua, saya biasa menyubut ayah saya adalah “My Big
Hero” karena beliau lah yang selalu berjuang pagi hingga malam mencari nafkah
untuk bisa membiayaai perkuliahan saya. dan “My Wonder Mom” yang tidak pernah
lebih untuk memberikan dukungan kepada saya.
Harapan
adalah sebuah kepercayaan yang harus kita perjuangkan. Manusia pasti banyak
memiliki harapan, begitupun saya. Harapan untuk saat ini adalah bisa lulus
tepat waktu dan mendapatkan nilai yang maksimal serta cepat mendapatkan
pekerjaan. Namun harapan terbesar saya adalah menjadi orang sukses agar bisa
meningkatkan derajat keluarga. Mungkin beberapa anak berfikir ingin dilahirkan
dikeluarga yang sangat berkecukupan dalam hal finansial, namun bagi saya
memiliki keluarga yang sederhana dan penuh dengan rasa kasih sayang sudah cukup
membuat saya selalu bersyukur bahwa uang bukan segalanya, namun kebahagiaan yang
didapat dari sebuah keluarga adalah hal yang terpenting dalam kehidupan. Ya,
saya tumbuh dikeluarga yang sangat sederhana, entah mengapa saya selalu merasa
keluarga saya itu selalu dianggap remeh oleh keluarga dari ibu saya. Namun
dibalik itu saya memiliki pemikiran bahwa hidup mereka yang sangat berkecukupan
bukan berarti mereka berkecukupan dalam hal hati nurani. Selain untuk
membahagiakan orangtua, hal itulah yang memacu saya untuk kenjadi pribadi yang
lebih baik dan sukses. Saya sadar untuk menjadi orang yang sukses pasti tidak mudah, namun saya yakin dengan
doa dan restu dari orangtua sedikit demi sedikit saya bisa meraih apa yang saya
impikan. Saya banyak belajar dari ayah saya bahwa hidup tentang perjuangan.
Seberapa besar perjuangan kita akan menentukan seberapa besar pula hasil yang
akan kita dapatkan, apapun keadaan yang kita alami tetaplah bersyukur dan
seberapa kita berada dibawah atau direndahkan hadapi dengan kesabaran. Semoga
semua harapan dan pembelajaran yang selama ini telah saya terima dapat menjadi
guru untuk kehidupan saya dimasa yang akan datang
Langganan:
Postingan (Atom)