Video Perkenalan

|

Audio

|
https://www.dropbox.com/home?preview=KDRT.wav

Video

|

BMC

|


Autobiografi

|
Rezki

 Autobiografi Rezki

Karina
Autobiografi Karina

Emunda


 Autobiografi Emunda

Faishal


Autobiografi Faishal

Anggi


Autobiografi Anggi

Autobiografi Emunda

|


Holaa People
            Let me introduce my self. Begitu dilahirkan saya diberi nama Emunda Primadiayu Putri, sempat berganti beberapa kali nama tapi akhirnya pakai nama itu. Kata orang tua saya arti dari nama itu adalah Emunda, yang ternyata adalah gabungan nama dari ayah dan ibu. Prima yaitu anak pertama dan ayu katanya sih anaknya paling cantik diantara yang lain ( padahal kenyataannya uda kalah saing, hehehe ). Kalau Putri ya anak perempuan. Jadi kalau digabung artinya anak perempuan pertama dari ayah dan ibu yang paling cantik. Pertama kali masuk dunia pendidikan itu masuk kelompok bermain “Intan Play Group” yang lokasinya dekat dengan rumah. Yah..like a anak-anak kecil pada umumnya yang masih malu-malu. Tapi begitu masuk taman kanak-kanak “Arisska” mulai deh punya temen sepermainan hihi. Cindy dan Rani. Merekalah sahabat yang benar-benar sudah seperti saudara tapi sekarang uda lost contact L  so sad. Mulai dari hal-hal konyol, memalukan, menakjubkan, dan membanggakan versi balita kita lakukan. Tapi semenjak masuk SMP kita uda sibuk masing-masing, kalau SD masih beberapa kali ketemu mereka.
            Sekolah Dasar “Al-Muslim” disitulah saya bersekolah Full Day School mulai dari jam 07.00 – 16.00. Kalau flashback pemikiran, mana bisa anak kecil sekolah dari pagi sampai sore, setiap hari. Tapi ternyata semua hal yang kita pikir itu tidak mungkin, bisa menjadi mungkin kalau dijalani dengan enjoy. Masa-masa SD inilah mulai mengenal sahabat sejati dan beberapa kegiatan positif. Sampai ketika itu kita membenuk grup PAF.VITS singkatan dari Putri (nama SD saya), Ainy, Firdha, Viras, Ilin, Tyas, Suri. Yah begitulah masa SD yang masih terkenal dengan pertemenan grup hehehe. Sekolah dan teman-temen semasa itu seperti rumah kedua dan saudara kedua bagi saya karena mau tidak mau seharian kita selalu bersama menjalani aktivitas. Karena ada saudara yang satu atap sekolah, kami sempat berjualan permen Lips yang pada waktu itu Hits dan susu milo yang kami tawarkan ketika istirahat sekolah. Benar-benar ketagihan dan langsung habis pada istirahat pertama, disitulah kami mulai muncul ide-ide bisnis kecil yang bisa kami tawarkan ke teman-teman sekolah. Walaupun pada waktu itu, sempat dilarang oleh guru, yang akirnya kami tawarkan ketika jam pulang sekolah. Kesenangan tersendiri karena bisa memiliki penghasilan lumayan secara kontinyu pada masa itu. Namun ketika kelas 6, kami stop berjualan karena focus untuk UN. Karena kecerobohan, kartu UN yang seharusnya wajib disimpan dan dibawa, milik saya justru hilang entah kemana, dan ada satu kertas penting lagi yang kelunturan tinta yang mengakibatkan guru-guru harus mengurus ke Dinas hanya untuk satu kartu. Tetapi akhirnya bisa mengikuti ujian walaupun harus merepotkan beberapa guru.
Nah ketika pengumuman kelulusan, di amplop bertuliskan kalimat yang panjang, sedangkan kalau pernyataan “Lulus” kan hanya beberapa kata. Karena pada saat pengumuman kelulusan di ruangan yang gelap, saya mencoba membaca tulisan tersebut secara beruang-ulang. Betapa kagetnya ketika tulisan tersebut menyatakan “Dinyatakan Tidak Lulus” disitu saya langsung nangis terdiam dan sangat menyesal, sempat terlintas dipikiran “Lalu untuk apa saya selama 6 tahun dan hasilnya sia-sia” , menangis dan menangis lagi. Sampai teman-teman datang dan memeluk dengan erat. Hingga menarik perhatian wali kelas datang menghampiri. Disitu wali kelas saya membisik dan berkata “Maaf Putri itu suratnya tertukar bukan untuk kamu, yang ini untuk kamu” sambil membawa surat kedua yang diberikan pada saya. Dengan Bismillah membuka surat kedua berharap pernytaan surat pertama itu salah. Ternyata benar, surat kedua saya dinyatakan “Lulus”. Betapa gembiranya dan bersyukur atas apa yang saya dapat. Begitu juga dengan teman-teman disekitar. Ternyata ada 4 orang yang dinyatakan tidak lulus sebelumnya. Dan jumlah kelas 6 pada angkatan saya yaitu sebanyak 4 kelas yaitu A, B, C dan D. Disitu wali kelas masing-masing siswa yang dinayatakan tidak lulus menghampiri secara personal, dan mengatakan “Ini pelajaran untuk kalian yang suka membikin orang lain repot atau teledor atau selalu membikin masalah semasa tingkat SD, semoga bisa menjadi pelajaran berharga untuk kalian agar lebih prepare , mandiri dan berhati-hati dalam bertindak. Jadi memang sengaja per kelas ada perwakilan 1 orang yang dinyatakan tidak lulus karena ulahnya. Semenjak itu tersadar dan bertekad setelah lulus harus bisa mandiri,  prepare, dan berhati-hati dalam bertindak.
Sekolah Menengah Pertama di SMPN 17 Surabaya, menjadi saksi pertama perubahan sikap menjadi lebih baik. Mendapat banyak teman baru dan lebih loyal terhadap sesame. Cuma satu yang tidak bisa hilang pada waktu itu, yaitu tidak bisa datang tepat waktu. Selalu terlambat sudah menjadi kebiasaan. Sampai suatu ketika satpam sekolah bosan dengan keterlambatan saya dan tidak membolehkan masuk. Dengan berjuta akal entah kenapa niatan untuk memberikan bekal yang saya bawa pada satpam sekolah tiba-tiba muncul, dan berjanji ini keterlambatan yang terakhir, untungnya satpam sekolah mau menerima bekal itu hahahaha ada ada aja ya . Semasa SMP kegiatan favorit yang diikuti yaitu menari daerah dan ikut tim Cheerleader sekolah. Pulang sekolah jam 3 ,langsung latihan Cheerleader di sekolah dan sorenya jam 6 langsung les primagama, lebih-lebih ketika kelas 9 kegiatan semakin padat. Weekend pun tidak bisa diam dirumah karena ikut les Tae Kwon Do bersama adik dan berenang di lokasi dekat rumah. Ketika itulah saya belajar disiplin waktu, mandiri dan belajar berani mengahadaip situasi diluar dugaan.
Masuk Sekolah Menengah Atas, tidak saya jalani di Surabaya karena lebih memilih di SMK Telkom Malang. Disini benar-benar mendapat banyak teman baru dari berbagai daerah, mata pelajaran yang bisa dibilang sulit karena seharusnya diberikan untuk porsi anak kuliah tapi ini dikhususkan untuk Telkom Malang yang berfokus pada Informatika. Bahasa – bahasa pemrograman mulai dikenalkan pada murid SMK Telkom, karena disekolah diwajibkan membawa laptop sebagai sarana pembelajaran yang sudah menggunakan beberapa software sebagai penunjang pembelajaran. Banyak teman yang solid saya dapatkan pada masa itu bahkan hingga sekarang masih terjaga komunikasinya. Angkatan 19 adalah angkatan saya. SMK Telkom ini juga terkenal dengan solidnya hubungan antar angkatan, dan memang terbukti relasi dari angkatan pertama sampai ankatan berapapun di SMK Telkom yang nantinya tetap berjalan lancar. Contohnya, pengumuman lowongan kerja selalu membanjiri calon lulusan SMK Telkom Malang, tidak sedikit alumni Telkom Malang yang lulus langsung bekerja pada perusahaan ternama bahkan dijalani sambil berkuliah. Dan output  dari lulusan Telkom Malang banyak yang menjadi Manajer Telkom di daerah tertentu atau bahkan di perusahaan lain. Informasi tentang angkatan terbaru dan berita duka atau apapun dari Telkom Malang selalu terdengar dan kami selaku alumni turut berempati jika memang ada informasi urgent. Beberapa sertifikasi Wikucup pelatihan bisa didapat dari kegiatan Telkom Malang. Dan bangga menjadi lulusan Telkom Malang. Sejak kelas 10, keinginan untuk berkuliah di Telkom Bandung sudah terpikirkan, hingga pada kelas 12 semester pertama, saat itu masih dibuka jalur pendaftaran Telkom yang pertama lewat raport , saya ikuti dengan harapan yang sangat besar untuk diterima. Ketika pengumuman penerimaan calon mahasiswa, entah karena apa nama saya ada di daftar calon mahasiswa Telkom Bandung yang sudah diterima dengan jurusan yang sesusai dengan yang saya inginkan. Puji Syukur Alhamdulillah senang luar biasa pada saat itu.
Ketika pertama kali menginjak kota orang yang beda wilayah, sempat merasa takut dan tidak percaya diri, apakah bisa beradaptasi dengan budaya orang sekitar. Awalnya asrama harus wajib dihuni oleh mahasiswa baru, yang satu kamar berisi 4 orang, tapi karena suatu hal kamar yang saya tempati berisi 5 orang dan 3 orang mayoritas nya berasal dari Medan dengan nada bicara yang agak tinggi dan dari Jawa hanya saya dan 1 teman saya. Namun dengan berjalannya waktu adaptasi bisa berjalan tanpa hambatan. Teman-teman baru dari wilayah baru saya dapatkan di kampus Telkom. Berbagai macam kepanitiaan, kegiatan, seminar saya ikuti dengan mindset jaman dulu untuk berburu TAK. Sebelum makin lama makin malas untuk mengikuti kegiatan kampus maka memang sengaja saya padatkan pada semester awal. Hingga explore ke tempat-tempat kuliner, wisata, atau cozy place untuk nongkrong selalu jadi keharusan untuk hangout  bersama teman-teman. Karena sekarang uda semester tua, keinginan untuk hal-hal seperti itu menjadi sedikit berkurang tidak se-hectic dulu. Sekarang ini lebih memikirkan persyaratan dan target lulus yang sesuai serta mulai merancang beberapa hal kedepan setelah lulus dari Universitas Telkom.
Beberapa hal yang uda terpikirkan setelah lulus yaitu ingin bekerja di OJK yang sebelumnya merupakan tempat magang. Di kantor  banyak sekali pengalaman kerja dan bertukar pikiran dengan karyawan dikantor. Budaya yang diterapkan sudah menjadi kebiasaan yang harus dijalani sehingga terbiasa. Bertambahnya relasi dengan beberapa orang di beberapa kantor menjadi nilai tambahan untuk saya pribadi sehingga lebih mudah mendapatkan informasi jika sewaktu-waktu membutuhkan. Bukan berarti menjadi karyawan selamanya menjadi target saya. Punya bisnis pribadi uda menjadi cita-cita dari dulu. Kalau ada kesempatan dan waktu serta segala hal yang dibuhkan uda bisa terpenuhi, punya produk kecantikan sendiri dan butik hijab yang simple tapi tidak terlalu syar’i menjadi impian besar dimasa yang akan datang serta bisnis dibidang Travelling. Menjalani kegiatan yang sesuai dengan hobby itu lebih menyenangkan apalagi bisa menghasilkan uang di bidang sesuai kesenangan. Untuk rencana awal memang bekerja menjadi karyawan untuk mengumpulakn pundi-pundi modal dan semoga nantinya bisa memiliki karyawan sendiri yang bekerja untuk bisnis saya. Tidak hanya dari segi ekonomi di masa yang akan datang, bahkan rencana untuk pernikahan seperti Event Organizer yang meliputi gedung, catering, gaun pengantin, dekorasi ruangan, tema yang diambil sudah ada beberapa gambaran yang terpikir pada saat ini.
Beberapa rencana diatas memang untuk pribadi, sedangkan harapan-harapan untuk keluarga pasti ada salah satunya untuk ayah dan ibu bisa naik haji secepatnya dan bisa beristirahat dari pekerjaan mereka. Saya menginginkan mereka untuk hidup bahagia dirumah dengan melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan hobby mereka bukan dengan bekerja seperti sekarang. Tetapi saya sadar semua harapan dan rencana di masa yang akan datang tidak akan terwujud tanpa kita ber-ikhtiar ( usaha ). Usaha apa yang dilakukan agar dapat mewujudkan harapan-harapan itu ? Itulah yang menjadi pertanyan besar untuk saya. Tapi saat ini yang menjadi acuan untuk saya setiap harinya adalah “Selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari” mulai dari hal-hal kebaikan kecil akan saya lakukan terlebih jika ada orang lain yang membutuhkan. Karena hal yang besar tidak akan terwujud tanpa ada hal-hal kecil yang sudah kita lakukan. Untuk saat ini kegiatan maksimal yang bisa saya lakukan yaitu menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dengan sangat baik dan tepat waktu untuk mendapatkan nilai terbaik pada mata kuliah tersebut karena status saat ini adalah sebagai mahasiswa. Tetapi tidak lupa dengan status sebagai anak yang harus selalu patuh dan taat kepada orang tua, hal kecil yang saya lakukan yaitu selalu memberi kabar tentang kegiatan yang saya lakukan di Bandung dan berusaha untuk membuat mereka tidak khawatir. Pada intinya harapan saya kedepan, dapat lebih mandiri dengan mampu membiayai kebutuhan diri saya secara pribadi dan keluarga . Sempat terpikir pada waktu SD untuk menjadi penulis, karena memang dulu saya hobby menulis kegiatan sehari-hari dalam bentuk diary dan orang lain yang membaca katanya sih berasa seperti ada dalam kegiatan aku itu. Kegiatan itu rutin dilakukan sampai kelas 4 SD entah kenapa tiba-tiba terhenti untuk menulis dan lebih memilih berkegiatan menari, yang merupakan hobby saya ketika kecil. Mungkin karena memang masih labil jadi tidak konsisten pada satu kegiatan. Beberapa kegiatan memang sempat saya lakukan secara rutin selama beberapa tahun namun tidak satupun yang menjadi fokus hingga saat ini, mungkin karena belum menemukan soul pada diri sendiri.
Ketika tumbuh semakin dewasa lebih bisa memilah kegiatan mana yang sesuai dengan kesukaan dan lebih belajar menghargai waktu. Karena orang sukses dan orang yang biasa-biasa saja pada dasarnya sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Tetapi mengapa mereka bisa menjadi orang hebat ? Itulah motivasi saya untuk lebih menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Harapan lainnya untuk pribadi yaitu ingin memiliki usaha kos-kosan bisa di Bandung maupun di Surabaya, bisa mendesain dan memeiliki rumah sesuai dengan keinginan pribadi. Kendaraan pribadi yang bisa didapat dari hasil keringat sendiri. Memang bukan hal yang mustahil apabila semua dilakukan dengan kerja keras dan tekun. Tidak ada hal yang tidak mungkin kecuali kita sendiri yang membuat hal tersebut menjadi tidak mungkin untuk diwujudkan. Teman-teman disekitar, saudara-saudara dan orang tua menjadi referensi, pengetahuan dan semangat baru untuk selalu melakukan hal lebih baik. Relasi yang banyak mulai dari berbagai bidang dan dari segala sisi menjadi faktor penting untuk memperoleh informasi lebih mudah terkait hal yang kita butuhkan. Relasi memang tidak terasa manfaatnya secara langsung namun apabila dapat menjaga komunikasi dengan beberapa rekan terdekat secara kontinyu manfaat itu akan dirasakan ketika kita sedang merasa kesulitan. Oleh karena itu, teman semasa sekolah, kuliah dan bekerja sangat penting untuk selalu menjaga komunikasi yang baik dengan mereka.               

Autobiografi Karina

|

Saya lahir di Bandung pada tanggal 24 Maret 1996, Saya dilahirkan dengan nama lengkap Karina Hapsari. Keluarga serta teman dekat selalu memanggil Saya dengan panggilan Arin. Saya dan keluarga tinggal di Kota Bandung, yang beralamat Komplek Ciwastra Indah Blok B no 6. Saya adalah anak ke tiga dari empat bersaudara, hanya saja saudara ke dua saya meninggal pada saat setelah dilahirkan. Jadi, saya anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah saya berketurunan Jawa dan Sunda, nama Ayah Saya adalah Raden Tanio Adil Sunu sedangkan Ibu Saya berketurunan Sunda hanya saja besar di Jakarta, nama Ibu Saya adalah Teti Haryati. Saya memiliki kakak dan adik yang berjenis kelamin laki-laki. Nama kakak Saya adalah Ristanto Adil dan telah menikah dengan seorang yang bernama Dina, sedangkan nama adik Saya adalah Risaldi Adil. Ayah, Ibu dan Kakak Saya bekerja sebagai Polisi dan Polwan, termasuk istri Kakak Saya yang bekerja sebagai Polwan.
Sekitar tahun 2001, pada saat Saya berumur 4 tahun Saya masuk pendidikan Taman Kanak-kanak dengan tingkatan nol kecil, Saya masuk TK Pasir Pogor yang berada di Jalan Ciwastra. Antara rumah dan TK hanya menyebrang jalan, tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke sekolah. Pada saat di TK Saya selalu diantarkan ke sekolah oleh Almarhum Kakek serta Mang Gungun. Namun, kadang Saya diantar jemput oleh ojek becak. Pada saat di TK Saya baru dapat mengetahui hal yang disukai oleh Saya adalah menggambar. Hal pertama yang saya gambar adalah pemandangan yaitu gunung, sawah, matahari dan burung.

Sesuatu yang digambar oleh Saya pada saat TK merupakan gambar pemandangan yang digambar oleh anak-anak yang lain pada umum. Hanya saja Saya suka sekali menggambar namun tidak handal dalam menggambar. Pada saat Saya menyelesaikan pendidikan nol kecil di TK, Saya langsung mendaftakan diri ke Sekolah Dasar tanpa masuk nol besar terlebih dahulu.
Pada Saya berumur 5 tahun, Saya masuk ke pendidikan tingkat Sekolah Dasar yang bernama SDN Margahayu Raya 01. Di SD Saya masuk kelas A dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan teman-teman kelas yang tidak pernah berubah. Pelajaran yang saya sukai pada saat SD adalah pelajaran olahraga dan pelajaran kreativitas. Saya paling tidak suka dengan pelajaran matematika dan IPA karna terlalu rumit. Pada saat saya kelas 4 Sd, saya memiliki kemajuan menggambar dalam pelajaran kreativitas yaitu menggambar istana berserta orang-orang istana.
                                                                                   

Saya sangat menyukai pelajaran kreativitas karena menciptakan sesuatu yang belum pernah Saya lalukan dan sangat menyenangkan. Saya pernah membuat  hiasan gelas yang berisikan agar-agar berwarna warni lalu, Saya pernah membuat boneka dari bola ping pong dan benang wol. Selain perlajaran kreativitas, Saya menyukai pelajaran penjaskes. Di dalam pelajaran penjaskes, Saya sangat senang apabila olahraga yang dilakukan adalah olahraga basket dan baseball. Ekskul yang saya ikuti di SD yaitu ekskul pencak silat, ekskul ini bukan ekskul yang saya pilih namun, ekskul wajib yang harus diikuti. Dibandingkan Saya harus ikut pramuka lebih baik Saya mengikuti pencak silat. Saya selalu kabur apabila pulang sekolah harus mengikuti kegiatan pramuka. Selain kegiatan sekolah, Saya mengikuti kegiatan diluar sekolah yaitu les piano klasik. Ibu Saya mendaftarkan saya ke tempat les musik dengan alasan, agar Saya memiliki keahlian. Namun, karena les piano klasik itu sulit jadi, Saya hanya bertahan les sebulan karena Saya belum menemukan rasa suka kepada alat musik piano. Pada saat saya kelas 5 SD Saya pernah ditunjuk perwakilan sekolah untuk ikut ke Perpustakaan Daerah (PUSDA), Saya juga merasa bingung kenapa Saya dapat terpilih mewakili sekolah. Sedangkan pada saat kelas 6 SD Saya pernah mengikuti sebuah pentas seni drama, biasanya disebut “kabaret”. Kabaret tersebut menceritakan tentang cinderella namun ceritanya digabung dengan cerita-cerita rakyat lainnya, ceritanya bertema humor. Saya berperan sebagai putri Lady Diana didalam sebuah drama tersebut. Banyak sekali pengalaman yang Saya ingat pada saat Saya berada di tingkat sekolah dasar, Saya dan teman-teman kelas pernah membantu salah satu teman kami dengan berjualan kue basah di sekolah dan juga belajar membuat kue basah. Pada saat kelas 6 SD dengan wali kelas yang bernama Bu Ros, kami dituntut untuk dapat mematuhi aturan yang telah disepakati selain ketentuan aturan dari sekolah. Aturan tersebut ialah kami diharuskan membawa bekal dari rumah untuk jam istirahat, bekal tersebut harus berisikan makanan berat empat sehat lima sempurna dan mengerjakan sholat wajib. Walaupun Bu Ros beragama non islam namun, Bu Ros selalu mengingatkan anak-anak kelasnya untuk beribadah. Banyak sekali kesan dan pesan yang menarik selama Saya bersekolah di SDN Margahayu Raya 01. Pentas seni perpisahaan sekolah kami semua mementaskan sebuah seni baik itu tarian maupun musik.Setelah acara perpisahan selesai kami pun berkumpul untuk berpamitan dan kami membicarakan tentang keterima kami di sekolah menengah pertama pada masing-masing orang.
Setelah menempuh sekolah dasar selama 6 tahun, Saya diterima ketingkat yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah pertama SMP. Saya bersekolah di SMPN 51 Bandung, pada saat Saya bersekolah di SMP tersebut Saya selalu kena sindiran dari saudara saya yang tingkatannya lebih muda satu tingkat dari Saya, namun kita lahir ditahun yang sama. Nama saudara Saya yang selalu mengejek Saya karna sekolah di SMPN 51 adalah Kiki dan Kania, untuk Kania Saya selalu memanggilnya dengan sebutan Novi. Mereka mengejek Saya karena Saya sekolah di daerah yang bukan di kota. Walaupun Saya kesal selalu disindir oleh mereka tapi Saya tidak pernah membalas mereka karena sindiran mereka memang benar, sekolah Saya berapa di kabupaten bukan di kota. Saya di SMP mengikuti ekskul basket dan kijarpara. Kijarpara merupakan ekskul seperti baris berbaris dan  pengibaran bendera. Pelatih Kijarpara bernama Bang Seto, Bang Surya, Kang Tresna dan Teh Devi. Selama latihan kami selalu seriu karna latihan kijarpara sama saja seperti latihan mental, semua pelatihnya selama melatih kami selalu bersikap menyeramkan karna secara berteriak-teriak. Selama menjalani ekskul Kijarpara Saya sudah lebih dari 5 kali lomba dan selalu membawa piala untuk sekolah. Walaupun Saya lebih fokus latihan Kijarpara namun, Saya selalu membagi waktu untuk sekolah dan latihan basket. Selama Saya latihan basket, pengalaman Saya selama masuk ekskul basket adalah mengikuti pertandingan di SMPN 34 namun, saya kalah dalam pertandingan tersebut. Setelah kami kalah dalam pertandingan tersebut, kami semakin giat latihan dan mengundah SMP lain untuk mengajak pertandingan persahabatan. Setahun kemudian, pada saat Saya masuk kelas dua SMP. Saya mendapatkan kabar kalau Kiki dan Novi, saudara Saya yang selalu mengejek Saya karna sekolah di SMP 51 mereka masuk ke SMPN 51 yaitu SMP yang sama bersama dengan Saya. Mereka menjadi adik kelas Saya di SMPN 51, setelah itu mereka mulai merasa menyesal karna sudah mengejek Saya. Akhirnya Saya, Kiki dan Novi pun satu sekolah namun masing-masing teman dari kami tidak mengetahui kalau kami itu saudara. Novi bergabung dengan ekskul yang sama dengan Saya yaitu basket dan kijarpara, sedangkan Kiki masuk ekskul basket. Pada saat latihan basket, Saya dikira pacaran dengan Kiki oleh teman-teman basket karena Saya, Kiki dan Novi selalu datang ke sekolah dan latihan basket secara bersamaan baik pergi maupun pulang. Padahal mereka tidak tahu kalau Saya dan Kiki itu bersaudara dan Saya sudah memberitahu kepada mereka kalau Saya dan Kiki itu bersaudara namun, mereka tetap tidak percaya dan sangat senang hal tersebut dijadikan sebuah gosip. Semenjak di SMP, Saya baru mengetahui apa itu yang namanya pacaran karena lingkungan teman-teman Saya yang memiliki pacar baik itu teman sekelas, adik kelas dan kakak kelas. Tapi itu tidak membuat Saya untuk berpikiran pacaran. Di SMP Saya memiliki cita-cita sebagai dokter, cita-cita umum yang diinginkan oleh anak-anak. Menurut Saya pekerjaan dokter merupakan perkerjaan yang mulia karna dokter bertugas untuk menyembuhkan orang yang sakit dan menyelamatkan orang yang terluka, itu pemikiran Saya pada saat Saya di SMP. Selama di SMP banyak sekali yang dirasakan, merasa resah karena takut tidak lulus UN. Pemikiran Saya saat SMP mengenai UN yaitu hal yang memalukan dan merasa gagal jika tidak lulus UN.  Setelah menjalankan tiga tahun yang mengesankan di SMP, Saya dan teman-teman Saya harus berpisah untuk menempuh tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA ataupun SMK.
Pada tahun 2011 Saya menempuh pendidikan lebih tinggi dari SMP yaitu sekolah di SMAN 25 Bandung yang berada di Jl.Baturaden. Hari pertama masuk SMA, pertama kalinya Saya merasakan OSPEK sebelum mengikuti pelajaran akademis di SMA. Hal pertama yang Saya rasakan ketika OSPEK yaitu suasana yang tegang karena senior-senior yang menjadi panitia OSPEK berbicara dengan nada yang keras dan menampakan mimik muka yang jutek biasanya senior-senior tersebut dinamakan TATIB (Tatat Tertib). Ketika OSPEK Saya kena hukum TATIB, dikarenakan Saya memakai kaos kaki yang berwarna merah muda, seharusnya kaos kaki yang dipakai berwarna putih. Hari terakhir OSPEK kami sebagai murid bari dan senior-senior selaku panitia OSPEK, kami saling berkenalan dan saling meminta maaf.
Setelah beberapa hari bersekolah di SMA, Saya masuk kelas 1 c di SMAN 25 Bandung dengan wali kelas yang bernama Bapak Adrian. Bapak Adrian adalah wali kelas saya di kelas satu, Pak Adrian mengajar sebagai guru bahasa Inggris. Pada saat waktunya untuk memilih ekskul, ekskul yang Saya pilih adalah basket, paskibra (ekskul wajib disekolah). Selain itu, saya mendaftar untuk menjadi pengurus OSIS. Agar dapat menjadi pengurus OSIS, Saya harus melewati tahapan atau sebuah test yang dibuat senior untuk menjadi pengurus OSIS. Tahapan itupun telah dilewati oleh Saya dan Saya resmi menjadi anggota dari pengurus OSIS. Untuk di basket, Saya selalu mengikuti latihan di hari sabtu dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota basket lainnya. Namun, setelah Saya ikut bergabung dalam organisasi Paskibra di SMA, Saya mulai meninggalkan ekskul basket. Selain mengikuti Paskibra di SMA, Saya harus mengikuti kegiatan yang ada di Paskibra Kota Bandung dan untuk anak kelas satu itu masih disebut sebagai CAPAS (Calon Paskibra). Untuk menjadi anggota Paskibra Kota Bandung Saya harus mengikuti pelatihan yang sangat panjang sekali. Selama setahun Saya menjadi CAPAS, Saya harus mengikuti LATGAB (Latihan Gabungan) yaitu latihan calon anggota paskibra diseluruh sekolah yang ada di Kota Bandung, latihan tersebut diadakan selama sebulan sekali di Balai Kota. Selain Latgab, masih banyak pelatihan lainnya yaitu Latsa,diklatsar, dan asrama. Hingga akhirnya Saya dapat mengikuti asrama Paskibra Kota Bandung selama 10 hari di SMAN 2 Bandung. Kami dilatih mental, disiplin dan tanggung jawab, selalu dimarah-marahi dan latihan baris-berbaris dilapangan dengan terik matahari yang panas. Selama asrama kami diajari bagaimana untuk mendapatkan sesuatu itu tidak mudah dan membutuhkan pengorbanan. Setelah menjadi anggota Paskibra Kota Bandung, Saya disarankan oleh senior Saya di Paskibra untuk mengikuti pendaftaran menjadi Paskibraka Kota Bandung untuk penugasan pada tanggal 17 Agustus, awalnya Saya tidak tertarik untuk mengikuti Paskibraka namun Saya dipaksa. Akhirnya Saya mengikuti test Pakibraka yaitu test wawasan, kesahatan, jasmani dan wawancara dengan bahasa sunda dan inggris. Setelah Saya selesai mengikuti test tersebut, akhirnya pada saat pengumuman yang keterima pun tiba, dan nama Saya disebut sebagai anggota Paskibraka Bandung. Saya pun mengikuti pelatihan Paskibraka Kota Bandung dan akhirnya Saya dapat ikut serta dalam pengibaran bendera pusaka milik Indonesia di Balai Kota pada tanggal 17 agustus 2011. Selama tiga tahun menjalankan pendidikan di SMA banyak sekali pengalaman baru di kelas IPA dan menjadi anggota Paskibra Kota Bandung. Selain itu, Saya terpilih untuk menjadi pengurus di Paskibra Kota Bandung sebagai HUMAS. Namun setelah kelas 3 SMA, Saya mulai fokus belajar untuk menjalankan UN dan test masuk ke Universitas. Pada saat kelas 3 SMA, Saya mulai mengikuti test di Universitas Swasta. Saya mengikuti test di UNPAR namun tidak diterima, lalu Saya mengikuti test di Universitas Telkom dan akhiirnya Saya diterima di jurusan MBTI di Telkom University. Saya selama di SMA tidak mengikuti tes SBMPTN namun Saya mengikuti tes SNMPTN (tes jalur undangan). Namun orang tua Saya meminta Saya untuk langsung daftra ke Universitas Telkom. Akhirnya Saya pun mendaftar untuk dapat menjadi mahasiswi Universitas Telkom. Sebenarnya pada saat Saya SMA, Saya berharap dapat mendaftar ke jurusan psikolog, awalnya Saya ingin mendaftarkan diri ke psikolog UNISBA namun, tidak diijinkan oleh Tante Saya dengan alasan tertentu yang membuat Saya menangis. Akhirnya Saya mengubah pikiran Saya lebih positif dengan menjalankan kuliah di Universitas Telkom. Saya berharap dengan berkuliah di MBTI tidak sulit dengan matakuliahnya dan dapat enjoy berkuliah di MBTI. Selama libur sekolah dengan waktu yang sangat panjang, Saya mengikuti les piano. Awal dari Saya ingin les piano karena Saya melihat teman Saya bermain piano dan Saya pun tertantang untuk mengenal alat musik piano. Sebelumnya, waktu SD Saya pernah dileskan oleh Ibu Saya les piano klasik tapi Saya tetap tidak bisa karena belum ada ketertarikan dan waktu SMP saya dileskan oleh Ibu Saya yaitu les gitar klasik tapi tetap saya tidak bisa. Saya berharap dapat diikutkan les menggambar namun tidak terlaksana.
Pada tahun 2013 Saya mengikuti OSPEK di Universitas Telkom. OSPEK di Universitas Telkom yang dijalakan 3 hari karena yang Saya dengar OSPEKnya itu diberhentikan dengan alasan tertentu. Di kampus Saya berteman dekat dengan Anggita, Anggi, Citra, Rahmah, Rezki, Faisal, Emunda dan Laras. Laras adalah teman Saya dari semenjak kelas 2 SMA. Semenjak menempuh pendidikan di Universitas Telkom, Saya mulai terpikir sebuah cita-cita yang sesungguhnya yaitu Saya ingin sekali dapat bergabung di perusahaan media. Saya mulai menghilangkan cita-cita kecil saya untuk menjadi dokter. Pada saat waktu magang, Saya memilih magang di perusahaan media yaitu di Pikiran Rakyat di bagian Marketing Komunikasi dan disana Saya banyak sekali pengalaman dalam menghadapi masyarakat dan konsumen. Selain itu, Saya pernah diajak untuk ikut wawancara sebuah komunitas dan membantu dalam peluncuran aplikasi PR.
Setelah lulus kuliah, Saya berencana untuk mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan media untuk berkerja. Namun, Ibu Saya memberikan saran untuk melanjutkan kuliah ke S2. Saran Ibu Saya dapat Saya pikirkan terlebih dahulu namun Saya belum bisa memberikan keputusan. Saya berharap diumur 25 tahun Saya sudah memiliki jodoh direstui oleh Allah SWT dan Saya memiliki sebuah keluarga yang diharapkan “amin”.

Autobiografi Faishal

|


Faishal Nur Pambudi, itulah nama lengkap saya. Banyak pepatah yang mengatakan bahwa nama adalah doa orang tua yang dititipkan oleh orang tua kita. Mungkin pepatah itu benar, karena arti dari nama saya cukup berat yaitu seorang pemimpin yang disinari cahaya dari surga. Dengan nama tersebut saya selalu berusaha untuk menjadi seorang pemimpin yang baik di lingkungan saya. saya beranggapan menjadi pemimpin tidak harus memimpin sebuah pasukan, namun dengan menjadi orang yang bisa menjadi panutan banyak orang itu sudah cukup menjadikan saya seorang pemimpin. Karang Lewas Lor, desa kecil dipinggiran kota Purwokerto Jawa Tengah yang menjadi tempat saya dilahirkan pada tanggal 02 Juli 1994. Desa yang damai dan penuh keramahan yang sampai saat ini menjadi tempat yang selalu saya rindukan karena hingga umur 3 tahun saya tinggal di desa tersebut.
Ayah saya bernama Heri Suprapto beliau lahir dari keluarga dengan latar belakang seorang guru dan seorang petani di desa tempat saya dilahirkan. Sejak kecil ayah saja sudah dididik untuk menjadi seseorang yang mandiri dan hidup sederhana. Tidak banyak kemewahan yang bisa dirasakan oleh beliau.  Masa kecilnya dihabiskan bermain di sawah, sungai dan kebun. Tapi beliau mendapat pendidikan yang baik terbukti dia adalah lulusan dari Universtas Pendidikan Indonesia. Gurat wajah beliau sangat jelas menggambarkan bahwa beliau adalah orang yang tidak pernah untuk berjuang demi keluarganya dari kecil hingga sekarang. Dengan mata saya sendiri saya melihat bagaimana perjuangan seorang ayah yang berjuang membangun keluarga dari bawah. Beliau adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Walaupun hidup dengan sederhana mereka berempat berhasil menyesaikan pendidikan mereka hingga tingkat perguruan tinggi. Beliau kini bekerja menjadi guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kota Cirebon.
Ibu saya bernama Enisa yang dilahirkan dari keluarga pebisnis batik di daerah Trusmi, Cirebon. Masa kecil beliau cukup berbeda dengan yang dialami oleh ayah saya. Lahir dari keluarga yang serba ada, menjadikan semasa kecil beliau tumbuh menjadi anak yang manja. Bisnis batik yang dijalani oleh keluarga beliau cukup suskes hingga sekarang. Beliau adalah anak kedua dari 8 bersaudara. Beliau sempat menjadi guru di salah satu sekolah swasta di Cirebon. Sekarang beliau memiliki toko sembako kecil di dekat rumah, tidak jarang beliaupun membantu nenek saya  untuk mengelola bisnis batiknya.
Selang 4 tahun setelah saya dilahirkan, Allah SWT kembali menitipkan anugrahnya kepada orangtua saya yaitu seorang anak perempuan yang diberi nama Amalia Nur Listiyani. Dialah adik perempuan saya yang sekarang bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Cirebon. Ketika dia lahir kami sudah menetap di Cirebon. Namun, dia dilahirkan di Purwokerto. Dia tumbuh sebagai anak yang rajin, bahkan lebih pintar daripada saya. Sayangnya dia sedikit malas untuk membantu ibu dalam mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sehingga apabila saya sedang pulang ke rumah, beberapa pekerjaan tersebut saya yang membereskannya.
Tidak banyak yang bisa dicerikatan dimasa kecil saya. Walaupun keluarga dari ibu saya adalah keluarga yang tergolong berada, namun saya tidak merasakan itu. Saya pindah ke kota Cirebon diumur 3 tahun. Hidup di pinggiran kota cirebon dengan rumah kontrakan yang kecil di daerah Cangkol, disitu lah saya menghabiskan masa kecil saya bermain seperti layaknya anak kecil pada umumnya. Selang 2 tahun saya pindah ke rumah peninggalan buyut saya di daerah Trusmi. Trusmi adalah salah satu sentra batik di Cirebon tempat dimana bisnis nenek saya berkembang. Kehidupan keluarga saya sedikit demi sedikit berangsur membaik. Ayah dan ibu saya bahu membahu bekerja untuk membesarkan keluarga kecil ini. Perjuangan mereka membangun sebuah keluarga sangat berat, tanpa bekal bantuan dari kedua orangtua mereka, mereka bisa membuat saya merasa nyaman dengan kesederhanaan dan hangatnya kasih sayang yang selalu meraka curahkan kepada saya.
Meninggalkan cerita pilu saya. Kita mulai dengan pendidikan formal pertama yang saya dapatkan di TK Nurussaadah Panembahan. TK tersebut tidak jauh dari rumah saya, sekitar 1km jaraknya. Selama 2 tahun saya menimba ilmu dasar disana. Sebenarnya usiaku terbilang terlambat untuk masuk TK. 1 tahun pertama saya selalu ditemani oleh ibu, namun pada tahun berikutnya saya sudah berani untuk berangkat sendiri. Kesehariannya saya berangkat dan pulang menunggunakan becak. Setiap hari jumat, terdapat acara makan bersama ketika jam istirahat, biasanya makanan yang disediakan adalah nasi kuning ataupun nasi uduk, saya bisa merasakan canda khas anak anak saat kita makan bersama sama. Saat perpisahan TK, saya dan beberapa teman melalukan sebuah persembahan untuk para guru dengan menampilkan sebuah musikalisasi puisi serta beberapa tarian. Momen itu yang tidak akan pernah saya lupakan selama saya TK.
Seharusnya pada usia 6 tahun saya sudah masuk SD. Tetapi kedua orang tua saya mengikuti program pemerintah yang meminta orang tua memasukkan anak sekolah dasar pada usia 7 tahun. Alhasil saya pun menjadi sedikit lebih tua dibandingkan dengan yang lain. Pendidikan saya berlanjut di SD Negeri 1 Panembahan. Letaknya bersebelahan dari TK saya dulu. SD tersebut tergolong SD yang bagus didaerah itu. Semasa SD saya adalah murid unggulan karena kemampuan saya sudah diatas rata-rata jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Dari kelas 1 hingga kelas 5 saya memperoleh ranking 1, hingga pada kelas 5 SD saya ditunjuk oleh sekolah untuk mewakili SD Negeri Panembahan 1 dalam ajang murid berprestasi tingkat kabupaten Cirebon. Alhamdulillah saya mendapatkan juara kedua dan mewakili Kabupaten cirebon melaju ke tingkat provinsi untuk mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Namun perjuangan saya harus terhenti di tingkat provinsi karena saya hanya masuk peringkat 5.
Setiap hari saya kayuh sepada merah saya untuk menuju ke sekolah. Ya, sejak kelas 1 hingga kelas 6 saya menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah. Ketidak sengajaan saya bertemu dengan reza, iskandar dan fahrizal di parkiran saat hari pertama masuk sekolah membuat kita berteman dekat. Setiap hari kita berempat selalu berangkat bersama. Sepulang sekolah kita sering bermain di dekat lapangan sekolah dengan teman-teman kelas lainnya. Mereka senang bermain futsal. Karena saya tidak begitu suka dengan permainan futsal, saya hanya duduk dipinggiran lapangan. Ada satu orang yang selalu menemani saya ketika teman yang lain sedang bermain bola, Ade Solehudin sosok dengan tubuh gempalnya selalu menemani saya. Dia adalah anak dari juragan kerupuk di daerah kami. Pertemanan saya dengan Ade semakin dekat ketika kita sering pulang bersama. Saya sering menyunjungi rumah dia sehabis pulang sekolah.  Pertemanan kita sangat dekat hingga saya sering menginap dirumah dia. Semenjak lulus SD saya sangat jarang bertemu dengan dia, karena kesibukan kita sudah sangat berbeda. Beberapa tahun saya tidak mendengar kabarnya. Dan sekitar 3 tahun lalu saya mendengar bahwa dia sudah berpulang kehadapan Allah SWT karena penyakit jantung yang diidapnya. Yang sangat saya sesali adalah  entah kapan kita saling bertemu sebelum dia wafat dan saya tidak sempat melayat dan melihat dia untuk yang terakhir kali karena pada saat itu saya masih berada di Bandung dan tidak memungkinkan untuk saya pulang. 1 hal yang bisa saya maknai dari pertemanan saya dimasa SD adalah pertemanan anak anak desa yang selalu berfikir untuk bermain tanpa membuang uang orang tua namun kita masih bisa bercanda dan bersenang senang bersama. Saya sangat merindukan kebersamaan itu. 
Berbekal piagam murid berprestasi tersebut saya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di kota karena pada saat itu SD saya memang berada di desa. Hanya ada 3 orang dari SD Panembahan 1 yang melanjutkan pendidikan SMP di kota, salah satunya adalah saya. walaupun saya memiliki prestasi murid teladan, namun saya tetap harus mengikuti tes seleksi masuk. Saya tidak merasa yakin bisa lulus tes tersebut karena soal ujian yang saya kerjakan sangat susah. Alhamdulillah ketika saya melihat pengumuman di mading sekolah, ternyata saya berhasil diterima di SMP Negeri 1 Kota Cirebon dengan kelas unggulan. Adaptasi yang cukup lama membuat saya tidak memiliki banyak teman. Perbedaan gaya hidup dan pertemanan antara anak-anak desa dan kota membuat saya sedikit kaget. Teman pertama saya adalah Pratiwi, itupun karena kita menggunakan angkot yang sama ketika pulang. Setiap pagi saya berangkat bersama ayah dan adik saya menggunakan motor karena pada saat itu Sekolah Dasar adik saya dekat dengan sekolah saya. Saat itu keluarga saya belum mempunyai mobil sehingga terpaksa ayah mengantarkan saya dan adik saya menggunakan motor. Terkadang saya merasa malu karena menggunakan motor bertiga, karena rata-rata yang bersekolah di SMP tersebut adalah orang-orang yang mampu secara finansial. Namun ketika saya mulai mengeluh atau malu saya selalu berifikir untuk apa saya malu, saya harus bangga karena saya mengetahui perjuangan ayah saya untuk memperjungkan pendidikan anak-anaknya.
Satu tahun adalah waktu yang cukup lama untuk saya beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Beranjak kelas dua, saya sudah mulai berteman dengan beberapa orang dan sudah menyukai seorang gadis bernama Gina Nur Kholidiah. Perawakan arab nya membuat saya tertarik dengan dia. Dengan masa pendekatan yang singkat akhirnya saya menjalin hubungan dengan dia, namun ketika itu saya terlalu sibuk dengan tugas yang cukup banyak sehingga saya bersikap cuek, kita hanya menjalin hubungan sekitar empat bulan. Namun setelah itu kita berdua tetap berteman, bahkan anehnya setelah kejadian tersebut kita menjadi teman dengan hingga saat ini. Pambudi’s Family adalah nama “geng” saya saat SMP. Asal mula nama Pambudi’s Family adalah karena saya adalah satu satunya laki-laki yang ada di “geng” tersebut dan nama pambudi adalah nama belakang saya. Semenjak SMP saya memang lebih dekat dengat perempuan daripada dengan laki-laki. Gina, Mutia, Icah, Sofi, Asti, Heda, Ferti, Alvira mereka lah sahabat sahabat terbaik saya ketika SMP. Sepulang sekolah kita sering pergi ke salah satu mall yang berada dekat sekolah kami. Kami sering main “Dance Dance Revolution” di pusat game master yang ada di mall tersebut. Gaya bermain saya ketika SMP memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan SD. Tapi saya pikir hal tersebut adalah wajar, karena lingkungan ketika saya SD dan SMP jauh berbeda. Pertemanan kami bersembilan tetap terjalin dekat hingga sekarang. Ketika liburan kuliah kami selalu menyempatkan diri untuk saling berkumpul.
Bersekolah di sekolah unggulan membuat saya memiliki banyak saingan dalam bidang akademik. Pola pembelajaran yang diterapkan juga sangat berbeda dibandingkan ketika di SD. Hal itu membuat saya menjadi anak yang biasa saja dikelas, bukan dalam golongan anak bodoh namun tidak bisa dikatakan golongan anak pintar. Selama tiga tahun saya bersekolah hanya 2 kali saya masuk ranking 10 besar. Guru yang paling saya ingat adalah guru matematika saya ketika kelas dua yang bernama Ibu Nani. Beliau menjadi guru yang sangat ditakuti karena sangat galak saat mengajar dan susah. Jika kita ingin mendapatkan nilai yang bagus, kita harus mengikuti les yang diadakan beliau dirumahnya. Mau tidak mau untuk menunjang nilai rapot, saya terpaksa ikut les tambahan dengan beliau. Beranjak kelas tiga saya sudah mulai fokus untuk menghadapi Ujian Nasional. Program sekolah mengharuskan murid kelas tiga mengikuti pengayaan setiap hari jam 06.00 pagi. Setiap pengayaan saya selalu merasa sangat mengantuk karena bagi saya itu terlalu pagi. Nilai Ujian Nasional yang saya dapatkan cukup tinggi dengan rata rata nilai 8,90. Nilai tersebut menjadi bekal saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas.
Tidak sulit untuk menentukan Sekolah Menengah Atas yang saya inginkan. Karena hanya ada 2 Sekolah Menegah Atas yang menjadi favorit pada saat itu. Saya memilih SMA Negeri 1 Cirebon untuk melanjutkan pendidikan saya. Saat itu saya tidak begitu sulit untuk beradaptasi karena hampir dari setengah siswa nya adalah siswa SMP Negeri 1 Cirebon. Ekstra kulikuler yang saya pilih saat SMA adalah Palang Merah Remaja. Saya menekuni dunia Palang Merah Remaja sejak SMP namun ketika SMP saya tidak serius menggeluti ekstra kulikuler tersebut. Saya banyak mendapat teman dan pengalaman selama mengikuti PMR. Pengelaman yang paling menarik ketika saya mengikuti lomba Jambore PMR Tingkat Nasional mewakili kota Cirebon. banyak sekali kenangan ketika melakukan latihan. Biasanya kami berlatih dari jam 16.00 hingga 18.00. Program yang SMA saya terapkan adalah full days school sehingga saya masuk jam 07.00 hingga 15.30.
Masih ingat dengan Ferti ? sahabat saya semasa SMP, ternyata 1 kelas dengan saya ketika kelas 1 SMA, terlebih saya ditunjuk sebagai Ketua Kelas sehingga saya tidak susah untuk menemukan teman. Setelah sebulan berlalu saya mulai dekat dengan teman yang lainnya, seperti Nabil, Ola, Thalia, dan Dara. Kita berenam  termasuk Ferti menjadi sahabat dekat. Kita berbeda kelas ketika penentuan jurusan. Pilihan selalu ada dalam hidup kita, dan kita harus bisa nementukan pilihan kita dan mengambil semua resiko yang ada. Begitupun yang saya lakukan ketika kenaikan kelas dua, saya harus memilih jurusan antara Ilmu Pengetahua Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ola dan saya memilih jurusan IPA sementara Nabil, Thalia, Dara, dan Ferti memilih jurusan IPS. Nilai rapot yang saya dapatkan bisa masuk kedua jurusan tersebut jadi saya memilih untuk masuk jurusan IPS, namun seminggu setelah itu ibu saya mengubah jurusan saya menjadi IPA dengan alasan jurusan IPA akan lebih luas dalam memilih jurusan pada saat kuliah nanti. Dengan terpaksa saya harus mengikuti kemauan ibu saya, padahal saya kurang begitu suka dengan mata pelajaran Fisika. Dari kelas satu hingga kelas tiga SMA, saya selalu mengikuti les fisika yang diadakan oleh guru. Namun tetap saja saya kurang paham mengenai pelajaran fisika.
Memasuki kelas 3 SMA saya sudah mulai berhenti untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler PMR yang saya geluti. Saya mengikuti pembelajaran tambahan di salah satu lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation. Saya menjalani kelas tiga SMA dengan sangat berat karena pagi hari saya harus sudah berangkat sekolah pukul 06.00 hingga 15.30 setelah itu dilanjutkan dengan bimbingan belajar sampai jam 18.00. Sesampainya dirumah saya tidak sempat untuk mengulang beberapa mata pelajaran dan mengerjakan PR karena saya sudah merasa sangat lelah. Pemikiran saya terbagi ketika saya harus memillih Universitas mana yang akan saya pilih untuk melanjutkan pendidikan. Saya tidak ingin masuk jurusan yang mempunyai unsur fisika sedangkan itu tidak mungkin karena saya berasal dari jurusan IPA yang notabene semua jurusan diperkuliahan mengandung mata kuliah fisika. Akhirnya saya memutuskan untuk cross jurusan. Latar belakang keluarga dari ibu saya banyak yang bekerja di bidang telekomunikasi lah yang membuat saya memutuskan untuk mendaftar di Telkom University dan tentunya saya memilih jurusan IPS. Pada saat saya mendengar pengumuman pendaftaran Telkom University sudah dibuka, saya langsung mendaftar dengan jurusan yang saya pilih adalah MBTI. Selang beberapa minggu kemudian saya mendapat kabar dari guru bimbingan konseling bahwa saya berhasil jurusan tersebut. Setelah saya dinyatakan diterima, tidak pikir panjang saya langsung memantapkan hati untuk tidak mendaftar ke universitas yang lain. Adapun saya mengikuti jalur seleksi undangan perguruan tinggi hanya untuk formalitas dari sekolah. Saat itu salah memilih administrasi fiskal di Universitas Indonesia. Dan hasilnya sudah bisa ditebak, saya tidak berhasil masuk ke jurusan tersebut. 
Hari pelaksanaan Ujian Nasional pun tiba. Hal yang saya takutkan pun terjadi. Ketika mata pelajaran Fisika banyak soal yang tidak bisa saya kerjaan. Namun ternyata teman-teman yang lain juga banyak yang tidak bisa mengerjakan soal fisika tersebut. Saya sedikit lega karena ternyata bukan hanya saya yang tidak bisa. Beberapa minggu kemudian saya dinyatakan lulus ujian nasional dengan nilai terendah adalah fisika. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu karena memang dari awal masuk SMA saya tidak begitu mengerti dengan mata pelajaran tersebut, dan kedua orangtua saya memaklumi hal tersebut.
03 Agustus 2013 adalah langkah awal saya untuk memasuki dunia yang baru yang penuh kemandirian. Tanggal itu adalah hari pertama saya pergi ke Bandung untuk memulai pendidikan Universitas saya. Tinggal di kota yang bisa dibilang asing bagi saya, membuat saya terlalu banyak berfikir. Rasa sedih karena harus meninggalkan orangtua, rasa takut dengan orang sekeliling, rasa sendiri karena belum mempunyai tumpuan, dan masih banyak rasa yang lain selalu berkecambuk dalam hati. Saya hanya bisa berdoa agar segala sesuatu yang saya lakukan disini bisa menjadi jalan yang baik untuk masa depan saya. wajah ayah dan ibu selalu menjadi penyemangat agar saya bisa sukses disini dan membuat keadaan keluarga kami jauh lebih baik dari sekarang.
Tinggal di asrama membuat saya sedikit berlega hati karena setidaknya saya tidak susdah untuk mencari teman baru. 316 adalah nomer kamer asrama saya bersama dengan Faldi, Fariz, dan Fahrizal. Banyak penyesuaian yang harus saya lakukan karena harus tinggal empat orang yang tentu memiliki watak yang berbeda beda. Namun saya tidak langsung menempati asrama laki-laki yang berada di kampus karena pada saat itu asrama masih dalam tahap pembangunan. Saya dan teman teman mahasiswa baru yang lainnya harus tinggal di asrama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Masa orientasi mahasiswa baru saya lewati ketika masih berada di asrama UPI sehingga saya harus bangun lebih pagi karena jarak yang jauh antara UPI dan kampus saya. Saat orientasi, ayah selalu membantu saya dalam mempersiapkan segala sesuatu yang harus saya bawa ketika orientasi berlangsung. Beliau rela tidak tidur karena membuat tas dari karung goni untuk saya dan masih banyak lagi bantuan yang beliau berikan ketika masa orientasi tersebut. Saya merasa sangat bersyukur memiliki ayah seperti beliau.
Hari pertama kuliah saya sudah pindah ke gedung asrama yang baru yang berda di lingkungan kampus. Karena saya belum bisa mengendarai motor maka saat itu saya pulang dan pergi ke kampus selalu jalan kaki. MBTI-D adalah kelas inti yang saya dapatkan. Awalnya saya merasa sangat malu karena saya berasal dari kota kecil dan bisa dibilang saya “cupu” dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Lagi. Saya susah beradaptasi dengan teman-teman yang ada disana. Terbiasa dengan teman perempuan saya menjadi susah untuk mendapatkan teman laki-laki. Tiga bulan pertama saya tidak memiliki teman dekat, namun suatu ketika saya memberanikan diri untuk mendekati teme-teman perempuan yang ada dikelas. Laras, Karina, Citra, dan Emunda adalah teman dekat pertama saya. Saat istirahat saya ikut mereka ke kantin untuk makan, berawal dari itu saya dekat dengan mereka. Tidak lama setelah itu kita membuat “geng” yang bernama Cabs yang beranggotakan saya, Laras, Karina, Citra, Emund, Anggita, Anggi, Rahmah, Rezki. Hingga sekarang mereka lah teman teman yang selalu menemani saya. lambat laun saya sudah bisa merasa beradaptasi dengan lingkungan baru saya.
Organisasi merupakan hal penting dalam proses pengembangan diri. Banyak organisasi yang tersedia di Telkom University, seperti Himpunan Mahasiswa ataupun beberapa Unit Kegitan Mahasiswa. Beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yang pernah saya coba adalah Choir, dan Bengkel Seni Embun. Namun saya hanya satu tahun mengikuti organisasi tersebut karena menurut saya organisasi akan mengikat saya dan hal itu memberatkan ruang gerak saya untuk mengerjakan hal lain. Untuk menambah keaktifan dan pengembangan diri, saya lebih suka bergabung dalam kepanitiaan beberapa acara seperti acara pengabdian masyarakat, olahraga, dan acara musik. Karena menurut saya dengan kepanitiaan tersebut akan lebih banyak mempunyai relasi dan keterikatan yang sementara membuat saya masih bisa melakukan hal yang lainnya. Pengalaman tersebut membuat saya sering ditunjuk sebagai ketua pada divisi acara.
Berbicara masalah nilai, saya bersyukur dengan nilai yang telah saya dapatkan hingga saat ini, walaupun belum mencapai nilai cumlaude. Namun apabila nilai semester akhir ini bagus, insyallah saya bisa mendapatkan nilai cumlaude. Mahasiswa mana yang tidak menginginkan nilai tersebut. Makadari itu saat ini adalah perjuangan akhir saya untuk menyelesaikan perkuliahan yang telah saya jalani hampir 4 tahun. Semester ini saya sudah mulai menyusun skripsi. Lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan adalah salah satu kebahagiaan yang bisa saya berikan kepada kedua orangtua saya saat ini. Saya akan membayar segala pengorbanan dn jerih payah orangtua saya dengan hal tersebut selagi saya belum bekerja. Jika berbicara perjuangan orangtua, saya biasa menyubut ayah saya adalah “My Big Hero” karena beliau lah yang selalu berjuang pagi hingga malam mencari nafkah untuk bisa membiayaai perkuliahan saya. dan “My Wonder Mom” yang tidak pernah lebih untuk memberikan dukungan kepada saya.
Harapan adalah sebuah kepercayaan yang harus kita perjuangkan. Manusia pasti banyak memiliki harapan, begitupun saya. Harapan untuk saat ini adalah bisa lulus tepat waktu dan mendapatkan nilai yang maksimal serta cepat mendapatkan pekerjaan. Namun harapan terbesar saya adalah menjadi orang sukses agar bisa meningkatkan derajat keluarga. Mungkin beberapa anak berfikir ingin dilahirkan dikeluarga yang sangat berkecukupan dalam hal finansial, namun bagi saya memiliki keluarga yang sederhana dan penuh dengan rasa kasih sayang sudah cukup membuat saya selalu bersyukur bahwa uang bukan segalanya, namun kebahagiaan yang didapat dari sebuah keluarga adalah hal yang terpenting dalam kehidupan. Ya, saya tumbuh dikeluarga yang sangat sederhana, entah mengapa saya selalu merasa keluarga saya itu selalu dianggap remeh oleh keluarga dari ibu saya. Namun dibalik itu saya memiliki pemikiran bahwa hidup mereka yang sangat berkecukupan bukan berarti mereka berkecukupan dalam hal hati nurani. Selain untuk membahagiakan orangtua, hal itulah yang memacu saya untuk kenjadi pribadi yang lebih baik dan sukses. Saya sadar untuk menjadi orang yang sukses  pasti tidak mudah, namun saya yakin dengan doa dan restu dari orangtua sedikit demi sedikit saya bisa meraih apa yang saya impikan. Saya banyak belajar dari ayah saya bahwa hidup tentang perjuangan. Seberapa besar perjuangan kita akan menentukan seberapa besar pula hasil yang akan kita dapatkan, apapun keadaan yang kita alami tetaplah bersyukur dan seberapa kita berada dibawah atau direndahkan hadapi dengan kesabaran. Semoga semua harapan dan pembelajaran yang selama ini telah saya terima dapat menjadi guru untuk kehidupan saya dimasa yang akan datang